Breaking News:

Hujan Lokal Hari Ini di Palembang Faktor Semai Garam Hujan Buatan

Sejak 10 Juni 2021di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) sudah melakukan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC).

Penulis: Linda Trisnawati | Editor: Prawira Maulana
Sripo/ Beri Supriyadi
Tahapan operasi modifikasi cuaca. 

* Sudah lima hari dilakukan TMC
* 4.800 kg garam sudah disemai

Laporan Wartawan Tribunsumsel.com, Linda Trisnawati

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Sejak 10 Juni 2021di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) sudah melakukan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Setidaknya sudah 4.800 kg garam di semai.

Bahkan hujan lokal sempat terjadi di beberapa wilayah yang ada di Kota Palembang seperti di Keramasan, Gandus dan lain-lain. Lalu apakah ini efek dari TMC?

Menurut Koordinator Lapangan BBTMC-BPPT, Purwadi, bahwa memang sudah dilakukan TMC selama lima hari. Dengan total penerbangan enam kali dan bahan semai 4.800 kg.

"Sedikit banyak cuaca di Sumsel sudah dipengaruhi oleh TMC hari sebelumnya, dan ditambah dengan penyemaian hari ini," kata Purwadi saat dikonfirmasi Tribun Sumsel, Senin (14/6/2021).

Lebih lanjut ia menjelaskan, fungsi dari TMC salah satunya menambah curah hujan. Hujan yang jatuh kepermukaan akan membasahi lahan dan akan menguap pada hari berikutnya.

"Hari ini juga dilakukan semai di area OKI dan Banyuasin. Sedangkan arah angin menuju ke barat. Ada beberapa awan tentunya masih ada yang bertahan hingga area Palembang," katanya.

Menurut Purwadi, potensi awan masih cukup bagus untuk dilakukan TMC. Namun gangguan angin yang cukup kencang membuat pergeseran awan dan hujan juga cukup kencang. jelasnya.

"Untuk kegiatan TMC biasanya dievaluasi setiap 10 hari. Dalam evaluasi nanti baru ditentukan apakah TMC akan lanjut atau dihentikan," ungkapnya.

Sementara itu Kepala Unit Analisa dan Prakiraan Stasiun Meteorologi SMB II Palembang Sinta Andayani menambahkan, biasanya yang menyimpulkan hasil hujan buatan adalah tim dari TMC BBPT. 

"Kalau BMKG memantau potensi hujan dari citra radar atau satelit cuaca secara umum saja, tanpa memperhitungkan apakah dari hasil teknologi modifikasi cuaca atau tidak," katanya.

Menurut Sinta, potensi hujan masih ada di awal musim kemarau ini, walaupun intensitas nya sudah mulai turun ringan hingga sedang dan lokal. 

"Puncak kemarau diprakirakan bulan Agustus dan September untuk Sumsel. Secara statistik bulan-bulan tersebut sudah sangat jarang atau hampir tidak terjadi hujan dalam satu bulan," jelasnya.

Sinta menghimbau kepada masyarakat, dari sekarang untuk waspada mengantisipasi musim kemarau ini, dengan menghemat air dan mencegah Karhutla dengan tidak membakar lahan.
 

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved