Breaking News:

Ramadhan 2021

Pengertian Itikaf dan Tata Cara Pelaksanakannya yang Benar

Banyak amalan yang bisa dilakukan setiap muslim di bulan ramadhan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, salah satunya dengan melakukan Itikaf

Penulis: Novaldi Hibaturrahman | Editor: M. Syah Beni
Tribunsumsel.com
Arti Itikaf Kosa Kata Bahasa Arab, Berikut Penggunaan Kata dan Tata Cara Melakukan Itikaf 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG- Pengertian Itikaf dan Tata Cara Pelaksanakannya yang Benar.

Kehadiran bulan Ramadhan sangat dinantikan bagi setiap muslim, karena memiliki banyak keutamaan serta keistimewaan.

Banyak amalan-amalan yang bisa dilakukan setiap muslim untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, salah satunya dengan melakukan Itikaf.

I’tikaf sebagai salah satu amalan sunah di bulan suci Ramadan, memiliki banyak sekali keutamaan.

Baca juga: Arti Kata Hilal Adalah? Ini Penjelasannya, Sebagai Penentu Perbedaan Waktu dan Ketetapan

Baca juga: Arti Kata Tadarus Adalah? Ini Pahala dan Keutamaan Tadarus Al Quran di Bulan Ramadhan

Meski bisa dilakukan kapan saja, namun pelaksanaan I'tikaf, semakin intensif pada saat bulan Ramadhan.

Lantas apa pengertian dari Itikaf? Bagaimana tata cara pelaksnaan yang benar.

Pengertian Itikaf

I'tikaf sunnah hukumnya jika dilakukan setiap waktu, namun lebih afdhal (utama) apabila dilaksanakan pada bulan Ramadhan.

Keutamaan i’tikaf di bulan Ramadan salah satunya untuk mendapatkan malam lailatul qadar.

Dihimpun dari Kamus Besar Bahasa Indonesia dan sumber lainnya, I'tikaf merupakan kosa kata yang berasal dari bahasa Arab.

Baca juga: Doa Menyambut Malam Nuzulul Quran yang Diperingati Setiap 17 Ramadhan Lengkap Dengan Amalannya

Baca juga: 5 Amalan yang Bisa Dilakukan Dalam Mencari Malam Lailatul Qadar

Istilah ini telah tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang artinya diam beberapa waktu di dalam masjid sebagai suatu ibadah dengan syarat-syarat tertentu (sambil menjauhkan pikiran dari keduniaan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.)

Secara etimologis, kata itikaf bersumber dari bahasa Arab yakni ‘akafa (عَكَفَ) ; fokus, bertempat, menahan, yang kemudian menjadi i'tikaf (اِعْتِكَافٌ) yang berarti beribadah di dalam masjid.

Dalam Quran surat Al Baqarah ayat 125, Allah SWT berfirman mengenai pelaksanaan itikaf di masjid, yang berbunyi

 وَاِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَاَمْنًاۗ وَاتَّخِذُوْا مِنْ مَّقَامِ اِبْرٰهٖمَ مُصَلًّىۗ وَعَهِدْنَآ اِلٰٓى اِبْرٰهٖمَ وَاِسْمٰعِيْلَ اَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّاۤىِٕفِيْنَ وَالْعٰكِفِيْنَ وَالرُّكَّعِ السُّجُوْدِ

Latin:

wa iż ja'alnal-baita maṡābatal lin-nāsi wa amnā, wattakhiżụ mim maqāmi ibrāhīma muṣallā, wa 'ahidnā ilā ibrāhīma wa ismā'īla an ṭahhirā baitiya liṭ-ṭā`ifīna wal-'ākifīna war-rukka'is-sujụd

Artinya:

Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah (Ka'bah) tempat berkumpul dan tempat yang aman bagi manusia. Dan jadikan lah maqam Ibrahim itu tempat salat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, orang yang itikaf, orang yang rukuk dan orang yang sujud."

Tata Cara Itikaf Menurut Ustadz Khalid Basalamah

I’tikaf di bulan Ramadan dilakukan untuk mendapatkan malam lailatul qadar yang sangat diharapkan oleh setiap umat muslim.

Rasulullah SAW selalu melakukan i’tikaf dimasjid setiap 10 hari terakhir di bulan Ramadhan sampai Allah SWT memanggil beliau.

Hal ini terdapat dalam hadist shahih sebagaimana disebutkan dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, bahwa Rasulullah bersabda : “Masjid adalah rumah bagi setiap orang yang bertaqwa, dan Allah akan menjamin bagi orang yang menjadikan masjid sebagai rumahnya dengan memberinya kasih sayang, rahmat atau karunia dan keberhasilan melewati keridhoan Allah sampai ke surganya.” (HR.Tabrani)

Perempuan boleh melakukan i’tikaf dimasjid dengan syarat harus izin kepada walinya.

Namun jika suami istri melakukan i’tikaf, pastikan jika masjid tersebut memiliki hijab atau tidak ada ikhtilath dengan laki-laki.

Tapi yang paling penting dan paling ditekankan itikaf adalah untuk kaum laki-laki.

Pada 10 hari terakhir Ramadhan, muslim yang melakukan I’tikaf harus betul-betul beribadah kepada Allah SWT dan memaksimalkan ibadahnya pada waktu itu.

Baca juga: Bacaan Doa Qunut di Rakaat Akhir Witir Sholat Tarawih, 10 Hari Terakhir Bulan Ramadhan 1442 H

Baca juga: Pengertian Nuzulul Quran Serta Amalan-Amalan yang Bisa Dikerjakan

I’tikaf ini paling afdol dikerjakan pada awal malam di 10 akhir Ramadhan dan keluar setelah sholat idul fitri.

Selepas Ashar ia pergi ke masjid, kemudian mengikat diri dan pulang pada keesokan harinya setelah Sholat Eid.

Setelah subuh, ia mandi, kemudian mengerjakan sholat Eid baru pulang. Hal inilah yang paling afdol dalam melakukan i’tikaf.

Dalam melakukan i’tikaf, dianjurkan untuk tidak melakukan hal-hal kecuali yang sangat darurat.

Apalagi jika terdapat ibadah yang lebih afdol untuk dilakukan selain i’tikaf, termasuk juga bagi yang telah menikah.

Jika istrinya menjenguk ke masjid, maka boleh diantar pulang sebagaimana nabi Muhamamd SAW mengantar pulang shofia saat dia mendatangi beliau yang tengah melakukan i’tikaf didalam masjid.

Jika ada orang yang keluar secara sengaja saat melakukan i’tikaf tanpa udzur, maka i’tikaf yang dilakukannya batal dan harus memulainya dari awal.

Jika betul-betul tidak bisa, maka pilih hari-hari dimana muslim bisa melakukan i’tikaf namun paling tidak lakukan i’tikaf pada malam ganjil di 10 hari terakhir Ramadhan.

Malam ganjil itu pada malam 21, 23, 25, 27, dan 29. Muslim yang melakukan I’tikaf pergi ke masjid setelah adzan Ashar berkumandang,

ia sholat Ashar dimasjid kemudian ikut mengurus buka puasa, setelah itu menginap hingga pagi hari.

Paginya jika bukan hari libur, maka dipersilahkan untuk berangkat bekerja. Mencari rezeki juga hukumnya wajib.

Namun jangan luput, karena i’tikaf hanya dilakukan saat malam hari dan pada saat I’tikaf muslim diperkenankan untuk tidur atau istirahat.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved