Breaking News:

Berita Palembang

Pupuk Langka, Petani di OI dan OKI Berkeluh Kesah Ke DPRD Sumsel

Kelangkaan pupuk menjelang musim tanam dikeluhkan oleh sebagian besar petani sawah di Sumsel.Termasuk petani yang ada di Kabupaten OKI dan OI. 

TRIBUNSUMSEL.COM/ARIEF
Koordintor dapil III DPRD Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), Junaidi 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG,--Kelangkaan pupuk menjelang musim tanam dikeluhkan oleh sebagian besar petani sawah di Sumsel.

Termasuk petani yang ada di Kabupaten OKI dan OI. 

Hal ini diungkapkan Koordintaor dapil III (OKI- OI) DPRD Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), Junaidi setelah reses ke petani disejumlah Kecamatan di OKI dan OI yang mengeluhkan  kelangkaan pupuk yang kerap terjadi pada saat musim tanam.

"Menurut warga masalah kelangkaan pupuk ynng sering terjadi saat musim tanam. Kalapun ada, harganya mahal dan sangat memberatkan petani," ujar Junaidi, Kamis (7/4/2021).

Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini berjanji akan menyampaikan aspirasi ini kepada pihak terkait.

Baca juga: Petani Kesulitan Pupuk, Anggota DPR RI Pertanyakan Hasil Subsidi Pupuk Rp 33 Triliun

Namun kata Junaidi, kelangkaan  pupuk urea tidak hanya terjadi di Sumatera Selatan saja, tetapi hampir seluruh Indonesia mengalami kelangkaan terhadap pupuk urea tersebut.

"Jadi bukan hanya di desa Tebing Grinting saja, tapi ini seluruh ya. Nanti kita akan bantu mencari solusinya," ucapnya.

Sementara  menurutnya dalam reses banyak aspirasi  yang di sampaikan warga  dan warga berharap bisa terealisasi.

Terpidah, Direktur Keuangan & Investasi Pupuk Indonesia, Eko Taufik Wibowo, menambahkan bahwa stok pupuk subsidi telah disiapkan di gudang lini 1 (produsen) sampai dengan lini 4 (kios resmi) sebanyak 1,5 juta ton. Jumlah ini cukup untuk alokasi selama enam minggu ke depan.

Adapun rinciannya adalah pupuk Urea 689 ribu ton, NPK Phonska 304 ribu ton, ZA 198 ribu ton, SP-36 172 ribu ton, dan pupuk organik Petroganik 145 ribu ton. 

“Kami selalu berusaha memastikan penyaluran pupuk bersubsidi sesuai dengan aturan pemerintah. Stok tersebut dua hingga tiga kali lipat lebih banyak dari stok minimum ketentuan pemerintah,” ujar Eko.

Baca juga: Pusri Penuhi Kebutuhan Pupuk Bagi Petani

Selain itu, lanjut Eko, Pupuk Indonesia juga tengah merevitalisasi pabrik Pusri IIIB yang akan menggantikan pabrik pupuk urea lama milik Pusri yang telah beroperasi sejak 1976, yaitu Pusri III dan Pusri IV. 

“Pusri IIIB direncanakan akan beroperasi pada tahun 2024 dan memiliki kapasitas produksi pupuk urea sebesar 1,15 juta ton per tahun dan amoniak 660 ribu ton per tahun,” jelas Eko.

Lebih lanjut Eko menjelaskan bahwa pabrik Pusri IIIB akan menggunakan teknologi baru yang lebih ramah lingkungan dan efisien dalam konsumsi gas bumi. Adapun nilai efisiensi konsumsi gas bumi Pusri IIIB diperkirakan mencapai Rp1,5 triliun per tahun.

“Dengan demikian, Pusri bisa lebih efisien dan penghematan biaya yang muncul dapat dialokasikan untuk investasi maupun pengembangan lainnya,” tutup 

Penulis: Arief Basuki Rohekan
Editor: Yohanes Tri Nugroho
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved