Breaking News:

Muslim Uighur di Xinjiang

Muslim Uighur di Xinjiang China, Tinggal Berabad-abad, Ingin Merdeka, Mahir Bertani dan Menenun

Uighur adalah etnis minoritas di China yang secara kultural lebih dekat terhadap bangsa Turk di Asia Tengah, ketimbang mayoritas bangsa Han

Getty Images
Sebuah keluarga Uighur berdoa di makam keluarga, dalam peristiwa tahun 2016. 

TRIBUNSUMSEL.COM--CHINA mendapat kecaman masyarakat dunia karena perlakuan semena-mena terhadap etnis Muslim Uighur di Provinsi Xinjiang, China. Mulai dari dugaan pelecehan seksual, penyiksaan, kerja paksa, hingga sterilisasi perempuan, pelanggaran HAM hingga isu genosida atau pembunuhan massal.

Sesungguhnya siapa Bangsa Uighur? Mengapa mereka menjadi viral dan mendapat perhatian dunia?

Uighur adalah etnis minoritas di China yang secara kultural lebih dekat terhadap bangsa Turk di Asia Tengah, ketimbang mayoritas bangsa Han, China.

Kendati ditetapkan sebagai daerah otonomi, Xinjiang sebagai satu provinsi terbesar di China, tidak benar-benar bebas dari cengkraman partai Komunis. Beijing mengeluarkan aturan baru yang melarang warga muslim Uighur melakukan ibadah atau mengenakan pakaian keagamaan di depan umum.

Baca juga: Inggris Kecam China Soal Pelecehan, Penyiksaan, dan Sterilisasi Paksa Wanita Muslim Uighur

Larangan tersebut antara lain mengatur batas usia remaja untuk bisa memasuki masjid menjadi 18 tahun, dan kewajiban pemuka agama untuk melaporkan naskah pidatonya sebelum dibacakan di depan umum.

Komunis China juga melarang mengenakan jilbab dan memelihara janggut.
Selain itu upacara pernikahan atau pemakaman yang menggunakan unsur agama Islam dipandang "sebagai gejala radikalisme agama."

Bermula Deklarasi Merdeka

Bangsa Uighur di Xinjiang dicatat oleh sejarah sudah ada sejak berabad-abad silam. Pada awal abad ke-20 etnis bangsa ini mendeklarasikan kemerdekaan mereka dengan nama Turkestan Timur. Namun pada tahun 1949, Mao Zedong menyeret Xinjiang ke dalam kekuasaan penuh Beijing.

Sejak saat itu hubungan China dengan etnis minoritasnya itu diwarnai kecurigaan, terutama terhadap gerakan separatisme dan terorisme.

Salah satu cara Beijing mengontrol daerah terluarnya itu adalah dengan mendorong imigrasi massal bangsa Han ke Xinjiang. Pada 1949 jumlah populasi Han di Xinjiang hanya berkisar enam persen dari total penduduk China. Di tahun 2010, jumlahnya sudah berlipatganda menjadi 40 persen.

Baca juga: AS Serukan Investigasi Tekait Laporan Perkosaan Massal kepada Muslim Uighur di China, Ada Bukti

Di utara Xinjiang yang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi, bangsa Uighur bahkan menjadi minoritas. Sebenarnya, bangsa Uighur bukan etnis muslim terbesar di China, melainkan bangsa Hui.

Halaman
123
Editor: Hanafijal
Sumber: Kompas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved