Berita Muratara

Risa Menangis Minta Suaminya Dipekerjakan Lagi, Minta Tolong Nian, Kami Nak Makan

Risa mempertanyakan mengapa suaminya diberhentikan padahal sudah 10 tahun lebih bekerja sebagai kernet mobil tangki angkutan minyak itu

Penulis: Rahmat Aizullah | Editor: Wawan Perdana
Tribun Sumsel/ Rahmat Aizullah
Risa dan ibu-ibu lainnya menangis saat unjuk rasa di Simpang III Desa Belani, Kecamatan Rawas Ilir, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Selasa (26/1/2021). Ia minta suaminya diperkerjakan kembali. 

TRIBUNSUMSEL.COM, MURATARA - Sambil menggendong anaknya yang masih balita, Risa menangis berharap suaminya dipekerjakan kembali.

Suaminya yang bekerja sebagai kernet mobil tangki angkutan minyak diputuskan hubungan kerja.

Suaminya dan puluhan pekerja lainnya diberhentikan oleh perusahaan penyedia tangki angkutan minyak subkontraktor perusahaan tambang minyak PT Sele Raya Merangin Dua (SRMD).

"Minta tolong nian, suami saya dipekerjakan lagi, kami nak makan," ujar Risa di sela-sela unjuk rasa di Desa Belani, Kecamatan Rawas Ilir, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumsel, Selasa (26/1/2021).

Risa mempertanyakan mengapa suaminya diberhentikan padahal sudah 10 tahun lebih bekerja sebagai kernet mobil tangki angkutan minyak itu.

"Tolong dipertimbangkan lagi, kenapa suami saya dipecat, dia tidak ada masalah, kalau misalnya dia ada masalah wajar dipecat," ujar Risa.

Warga lainnya, Wangi juga tak kuasa menahan air mata saat menyampaikan aspirasi pada unjuk rasa tersebut.

"Suami saya tidak ada pekerjaan lain, kini jadi pengangguran, tolonglah dipekerjakan lagi, kami mau makan," katanya.

Puluhan warga unjuk rasa di Simpang III Desa Belani, Kecamatan Rawas Ilir, Kabupaten Muratara, Selasa (26/1/2021) siang.

Mereka menyetop seluruh mobil tangki angkutan minyak PT Sele Raya Merangin Dua (SRMD).

Akibatnya, operasional perusahaan pertambangan minyak di bawah pengawasan SKK Migas itu menjadi terganggu.

"Kami cuma minta kerja lagi, kami tidak ada masalah kenapa kami dipecat," kata Junaidi, pengunjuk rasa.

"Perusahaan ini ada di desa kami, kalau kami tidak diberdayakan, angkut minyaknya tidak usah pakai tangki, pakai pipa saja, itu aturan dari SKK Migas," timpal Junaidi.

Warga lainnya, Sunardi mengatakan penutupan jalan dan penyetopan mobil tangki itu dalam rangka menuntut keadilan.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved