Breaking News:

Obati Kista Bermodalkan Kartu JKN-KIS Semuanya Gratis dan Memuaskan

Ia juga mengaku mengantongi foto-foto anak muda yang mengikuti kegiatan pelatihan teror tersebut.

BPJS Kesehatan
BPJS Kesehatan 

TRIBUNSUMSEL.COM, LUBUKLINGGAU -  Hasriana Desti (48) warga Kelurahan Taba Lestari Kecamatan Lubuklinggau Timur I mengaku senang mendapatkan bantuan pemerintah melalui jaminan kesehatan sebagai peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) APBN yang sudah terdaftar sejak tahun 2014.

Namun dikarenakan beliau sempat pindah tempat tinggal membuat beliau belum mendapatkan kartu JKN-KIS tersebut.

Akhirnya beliau menghubungi petugas BPJS Kesehatan untuk melakukan pencetakan ulang. Diakuinya, proses pencetakan ulang kartunya tersebut cukup mudah.

Hanya dibutuhkan KTP dan Kartu Keluarga (KK) saja.

“Kami memang belum mengurus untuk mendaftar menjadi peserta mandiri (segmen Peserta Bukan Penerima Upah) karena takutnya nanti tidak sanggup bayar. Ternyata waktu dicek sudah ada datanya di BPJS Kesehatan. Mungkin karena pindah alamat jadi kartunya belum dapat sampai sekarang. Terus dicetak ulang dengan tunjukkan identitas lengkap,” ujar wanita yang
sering disapa Desti (15/12).

Semenjak mendapatkan kartu tersebut Desti sudah pernah menggunakan kartu tersebut untuk berobat. Diceritakannya, beliau pernah mengalami sakit lambung dan kista.

Dikarenakan sakit yang dideritanya mengharuskan Desti untuk melakukan pengobatan dan kontrol secara rutin setiap minggu.

“Beberapa bulan kemarin sempat rawat jalan di rumah sakit. Tapi sebelum rawat jalan, awalnya berobat ke puskesmas dulu lalu dirujuk ke poli penyakit dalam kemudian dan poli kebidanan, ketika dicek ternyata ada kista,” ceritanya.

Walaupun terdaftar sebagai peserta PBI, Desti merasakan pelayanan yang didapatkannya sangat memuaskan.

Dari seluruh pelayanan yang ia terima tidak ada perbedaan layanan yang ia temui dengan pasien segmen umum.

“Kami dilayani dengan baik, selama perawatan juga tanpa biaya tambahan. Semuanya gratis, obat rutin selalu diberikan dengan lengkap dan Alhamdulillah sekarang sudah membaik,” ujar Desti.

“Dulu sebelum berobat kalau sedang kambuh rasanya sangat sakit, seperti perut ditusuk-tusuk sampai tidak bisa tidur. Sekarang sudah jarang merasakannya. Itu karena obat yang diberikan bagus. Pernah kami coba cek obatnya di apotek ternyata lumayan mahal harga obatnya. Kalau tidak ada kartu ini mungkin agak kesulitan untuk berobat dengan biaya yang mencapai jutaanitu,” kenang Desti.

Berbekal pengalaman yang ia terima, Desti mengaku puas dengan pelanyanan menggunakan kartu JKN-KIS tersebut. Beliau mengucapkan terima kasih kepada pemerintah yang telah memperhatikan keluarganya dengan memberikan kartu JKN-KIS untuk suami dan juga dua orang anaknya. (RW/na)

Editor: Weni Wahyuny
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved