Breaking News:

Kostratani BPP Rambutan Kabupaten Banyuasin Bangkitkan Semangat Petani untuk IP 200

Kami berupaya agar para petani dapat semangat untuk melaksanakan IP 200 tentunya dengan menggunakan alsintan dan program Kementan seperti serasi.

ISTIMEWA
Kostratani BPP Rambutan Kabupaten Banyuasin Bangkitkan Semangat Petani untuk IP 200. 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Kementerian Pertanian dibawah pimpinan Syahrul Yasin Limpo (SYL) mempunyai visi untuk pertanian maju, mandiri dan modern dengan berbagai program kerja untuk mewujudkan kesejahteraan petani dan pemenuhan pangan bagi 267 juta penduduk Indonesia dengan salah satu program andalan Kementan yaitu Kostratani.

Program Kostratani dipimpin langsung Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya manusia Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi, Dedi menjelaskan kostratani adalah pusat kegiatan pembangunan pertanian tingkat kecamatan, yang merupakan optimalisasi tugas, fungsi dan peran Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) dengan memanfaatkan IT dalam mewujudkan kedaulatan pangan nasional.

SMK PP Negeri Sembawa sebagai Unit pelaksana Teknis (UPT) BPPSDMP turut mendukung program kostratani dengan bekerjasama dengan BPP Kecamatan Rambutan, Kabupaten Banyuasin.

BPP Rambutan dipilih SMK PPN Sembawa sebagai BPP Kostratani model karena memiliki potensi sebagai salah satu daerah dengan luas wilayah persawahan yang luas.

Salah satu kegiatan pendampingan kostratani yang dilakukan adalah BPP Rambutan, beserta petani dan SMK PP Negeri Sembawa melaksanan penanaman padi untuk Indeks Pertanaman) IP 200 di desa Gelebak Dalam Kecamatan Rambutan (10/12/2020). Penanaman ini dengan menggunakan alsintan yaitu mesin transplanter.

Kepala SMK PP Negeri sembawa Mattobi'i mengharapkan dengan penggunaan alsintan diharapkan dapat membuat pekerjaan menjadi mudah, produktivitas pertanian meningkat sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan petani.

Koordinator Penyuluh BPP Rambutan Sunarno didampingi penyuluh Desa Gelebak Dalam Ubaidillah Akhyar menyampaikan potensi IP 200 di Desa Gelebak dalam sebesar 606 hektare dengan luas tanam sampai saat ini 410 hektare, sedangkan luas lahan produktif di Desa Gelebak Dalam seluruhnya 884 hektare.

"Kami berupaya agar para petani dapat semangat untuk melaksanakan IP 200 tentunya dengan menggunakan alsintan dan program Kementan seperti serasi," katanya.

"Tentunya ini akan diupayakan terus meningkat, cita-cita kami adalah petani di Kecamatan Rambutan dapat melaksanakan IP 300," tambah Ubaidillah.

Miswanto, petani di Desa Gelebak Dalam yang juga merupakan ketua KTNA Kecamatan Rambutan menjelaskan bahwa penggunaan alsintan sangat membantu petani.

"Penanaman IP 200 di Desa Glebak Dalam dapat ditingkatkan lagi, dengan menggunakan transplanter untuk mempermudah petani sehingga biaya tanam yang mahal bisa berkurang dengan adanya alsintan. Bibit yang digunakan adalah jenis inpari 2 yang sesuai dengan kondisi tanah lebak dalam untuk kadar asam yang tinggi," ujar Miswanto.

Biaya tanam untuk 1 hektare dengan menggunakan cara konvensional dapat membutuhkan 15 pekerja, dengan biaya 2,5 juta dibandingkan dengan menggunakan transplanter dalam satu hari dapat menyelesaikan 1 hektare penanaman dengan tiga orang pekerja dan biaya hanya Rp 800.000,00.

Ikuti Kami di Google

Editor: Vanda Rosetiati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved