Berita Palembang

Punya 8.894 Koleksi, Museum Negeri Sumsel Tempat Berwisata Asyik Sambil Belajar Sejarah

Museum Negeri Sumsel ini sangat cocok untuk wisata sekaligus edukasi. Bisa wisata sekaligus belajar sejarah Sumsel. Apalagi di sini ada 8894 koleksi.

Tayang:
Penulis: Linda Trisnawati | Editor: Vanda Rosetiati
TRIBUN SUMSEL/LINDA TRISNAWATI
Suasana bagian depan pintu masuk Museum Negeri Sumsel yang ada di Jalan Srijaya I, nomor 288 KM 5 Kota Palembang. 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Suasana asri dan sejuk sangat terasa saat berkunjung ke Museum Negeri Sumatera Selatan (Sumsel) yang dulu dikenal sebagai Museum Balaputra Dewa. Museum Negeri Sumsel ini terletak di Jalan Srijaya I, nomor 288 KM 5 Kota Palembang.

Kepala UPTD Museum Negeri Sumsel H Chandra Amprayadi SH mengatakan, sejak dibangun 1978 dan diresmikan 5 November 1984, Museum Negeri Sumsel menjadi satu-satunya museum umum yang dikelola Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Sumsel.

"Museum Negeri Sumsel ini sangat cocok untuk wisata sekaligus edukasi. Jadi bisa wisata sekaligus belajar sejarah Sumsel. Apalagi di sini ada 8894 koleksi," kata Chandra saat menjelaskan tentang Museum Negeri Sumsel pada Tribun Sumsel, Jumat (23/10/2020).

Lebih lanjut ia menjelaskan, 8.894 koleksi yang ada di Museum Negeri Sumsel ini terbagi menjadi 10 jenis yaitu geologika, biologika, etnografika, arkeologika, historika, numismatika dan heraldika, filologika, keramologika, seni rupa dan teknologika.

"Karena jenis koleksi yang ada cukup banyak maka di Museum Negeri Sumsel ini dibuat ruangan-ruangan khusus, mulai dari Taman Megalitik, Galeri Malaka, Gedung Pameran I,II, dan III, Bangsal Arca, Rumah Limas, dan Rumah Ulu," bebernya.

Menurutnya, tidak semua koleksi ditampilkan, melainkan ditampilkan secara bergantian.

Untuk koleksi unggulan (masterpiece) yang dimiliki di Muesum Negeri Sumsel ini di seperti koleksi Ibu Mendukung Anak, Prasasti Swarnapatra, Arca Megalith Baru Gajah, dan lain-lain.

Untuk arca yang paling terkenal yaitu arca Ibu Mendukung Anak, karena arca ini pernah diikutsertakan pada Festival Seni dan Budaya Europalia 2017 di Belgia, mewakili Indonesia. Arca Ibu Mendukung ini terletak di Taman Megalith.

Chandra pun menjelaskan, untuk pemilihan Arca Ibu Mendukung Anak yang ditampilkan di Europalia karena arca ini mempunyai nilai filosofis tinggi, sebab seorang ibu punya arti penting bagi anak-anak dan keluarga. Ibu sebagai seorang wanita yang punya peran ganda mengurus anak-anak, keluarga dan tetap bekerja.

"Lalu masuk ke sebelah kiri gedung ada Galeri Malaka. Kenapa ada Galeri Malaka di Museum Negeri Sumsel, karena kita bekerjasama dengan Museum Malaka, jadi saling bertukar," bebernya.

Kemudian di Gedung Pameran I yaitu menggambarkan kehidupan masyarakat Sumsel dari pra sejarah sampai bercocok tanam. Di sini juga ada ditampilkan hewan-hewan yang ada seperti harimau, buaya dan lain-lain.

Pengunjung Museum Negeri Sumsel, Dinda melihat perahu lesung yang ada Gedung Pameran II.
Pengunjung Museum Negeri Sumsel, Dinda melihat perahu lesung yang ada Gedung Pameran II. (TRIBUN SUMSEL/LINDA TRISNAWATI)

Sedangkan Gedung Pameran II tentang kerajaan Palembang. Karena banyak temuan-temuan yang dipamerkan di sini seperti kemudi kapal yang ditemuka di sungai daerah Keramasan. Ditemukannya pada kedalaman 35 meter yang dipekirakan sudah ada sejak abad ke I sampai XIII.

"Untuk kemudi kapal ini panjangnya 7,8 meter, berat lebih dari 2 ton. Sedangkan untuk perahu lesung ditemukan di Pemulutan tertimbun pasir di kedalaman 15 meter. Perahu lesung ini panjangnya 8 meter," jelasnya

Lalu di Gedung Pameran III ada peralatan memasak, bertani, tenun, songket, jumputan dan lain-lain.

"Untuk Bangsal Arkeologi ditampilkan 12 koleksi dari dua periode yaitu delapan koleksi arca Pra Sejarah dan empat koleksi arca tinggal dari masa kerajaan Sriwijaya (arca Hindu dan Budha)," katanya.

Salah satu koleksi masterpiece yang ada di bangsal Arkeologi yaitu Arca Batu Gajah dari masa Pra Sejarah yang ditemukan di Kota Raya Lembak Pagaralam tahun 1929 diperkirakan abad 1 Masehi.

"Terakhir Rumah Limas dan Rumah Ulu yang terletak di bagian belakang. Untuk Rumah Limas merupakan rumah tradisional Sumsel. Rumah Limas ada sejak masa Kesultanan Palembang dan pada awalnya merupakan milik warga keturunan Arab," cetusnya.

Kunjungan Ratu Beatrix

Ia pun menceritakan, bahwa pada tanggal 29 Agustus 1995 di Museum ini mendapatkan kunjungan Kepala Negara Belanda, Ratu Beatrix dan Pangeran Clans beserta rombongan yang berkenan melihat bangsal arca dan Rumah Limas.

Bahkan Bank Indonesia mengabadikan Rumah Limas Tradisional Sumsel ini dalam pecahan uang kertas Rp 10 Ribu.

Sedangkan Rumah Ulu merupakan rumah tradisional yang berkembang di daerah uluan (hulu sungai Musi).

Rumah Ulu koleksi museum ini berasal dari Desa Asam Kelat, Kecamatan Pengandonan, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU). Rumah Ulu ini diserahkan ke Museum pada tanggal 20 November 1992, yang diperkirakan hingga kini berumur kurang lebih 200 tahun.

Chandra menambahkan, bahwa dimasa pandemi Covid-19 kunjungan dibatasi dan diterapkan protokol kesehatan (Prokes) seperti cuci tanggan, pakai masker, di cek suhu tubuh dan jaga jarak saat berkunjung ke Museum.

"Museum Negeri Sumsel ini buka setiap hari Selasa-Minggu dan tutup di hari Senin. Jam operasionalnya Selasa-Jumat pukul 08.00-16.00 dan Sabtu-Minggu pukul 09.00-15.00. untuk tiket masuknya cukup terjangkau hanya Rp 2000 untuk dewasa dan Rp 1000 untuk anak-anak," katanya

Sementara itu Dinda penggunjug di Museum Negeri Sumsel mengatakan, bahwa ia ke Museum untuk belajar dan mengingat kembali masa-masa kecil sering ke museum.

"Rumah saya tidak jauh dari sini jadi dulu saya sering ke sini. Kalau menurut saya asyiknya ke museum itu kita bisa belajar tentang sejarah dengan mudah, karena koleksi yang dipamerkan sudah dilengkapi dengan penjelasan yang mudan difahami," ungkapnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved