Hobi

Bonsai Serut Linggau Sedang Banyak Diburu Kolektor, Harganya Bisa Rp 10 Juta

Mengoleksi tanaman kerdil atau bonsai dalam pot kini menjadi tren baru masyarakat Kota Lubuklinggau untuk mengatasi kepenatan di rumah

Penulis: Eko Hepronis | Editor: Wawan Perdana
Tribun Sumsel/ Eko Hepronis
Seorang pengunjung sedang melihat bonsai Serut Linggau di depot milik Sugeng Hadi warga JL dayang Torek, Kelurahan Lubuk Tanjung, Kecamatan Lubuklinggau Barat I, Kota Lubuklinggau, Sumatra Selatan. 

TRIBUNSUMSEL.COM, LUBUKLINGGAU-Mengoleksi tanaman kerdil atau bonsai dalam pot kini menjadi tren baru masyarakat Kota Lubuklinggau untuk mengatasi kepenatan di rumah akibat pandemi Covid-19.

Salah satunya apa yang dilakukan oleh Sugeng Hadi warga Jalan dayang Torek, Kelurahan Lubuk Tanjung, Kecamatan Lubuklinggau Barat I, Kota Lubuklinggau, Sumatra Selatan.

Di pekarangan rumah laki-laki asal Tegal Jawa Tengah ini puluhan bonsai sudah dibedakan sesuai dengan kelasnya masing-masing berjejer rapi disudut-sudut rumahnya.

Sugeng mengatakan saat ini di depot miliknya ada beberapa jenis tanaman bonsai seperti jenis Amplas Sumatra, Bunut, Jeruk Tingkit, Cemara Udang, Kelampis Ireng, Anting Putri, Serpang Merah dan serut Linggau atau biasa disebut Kali age.

"Untuk yang paling buming di Linggau saat ini Serut Linggau, hampir semua kolektor mencarinya saat ini," ujar Sugeng saat dibincangi dikediamannya pada wartawan, Senin (12/10/2020).

Baca juga: Fakta Tanaman Janda Bolong, Tidak Sampai Ratusan Juta, Harga Naik Sejak 3 Bulan Terakhir

Ia menuturkan, untuk wilayah Kota Lubuklinggau Serut Linggau yang paling mahal berdasarkan informasi dari Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) Cabang Kota Lubuklinggau harganya mencapai diatas Rp 10 Juta

"Itu harga yang sudah jadi, sementara untuk bahannya dikisaran Rp 200 ribu, itu apabila mengambil langsung dari pendongkel alam, bahkan bila sudah kenal bisa kurang lagi hanya Rp 150 ribu," ungkapnya.

Ia mengungkapkan, dalam menilai tanaman bonsai tergantung dari karakteristiknya, karena setiap pohon memiliki gerak dasar dan ukuran masing-masing.

"Yang menentukan tanaman bonsai ini yang bisa menjadikan harganya semakin mahal atau pantastis adalah gerak dasar. Semakin besar gerak dasar atau bentuk karakteristik dari bonsai itu maka akan semakin mahal," ungkapnya.

Ia menerangkan, dalam tanaman bonsai itu ada dua sistem, sistem pertama hasil budidaya dan sistem kedua hasil mencari di hutan. Untuk hasil hutan bila tidak ekslusif akan sangat sulit tembus pasaran tinggi.

"Beda dengan budidaya yang memang diolah sejak kecil dan bila memang gerak dasarnya bagus harganya pantastis, karena bisa dibentuk sesuai dengan keinginan kita," ujarnya.

Sementara untuk di depotnya sendiri sendiri yang paling banyak di budidayakan saat ini adalah Anting Putri, sebab permintaan untuk bonsai jenis ini bukan hanya lokal melainkan harganya sesuai standar nasional.

"Untuk dipasaran saat ini harganya yang kecil saja dikisaran Rp 300-Rp 500 ribu, apalagi untuk yang sudah besar pasti lebih mahal," ungkapnya.

Menurutnya, merawat bonsai gampang-gampang susah dan membutuhkan waktu tahunan, untuk dongkelan membutuhkan waktu sampai lima tahun hingga mengahasilkan bonsai indah dinikmati.

"Sementara untuk bonsai hasil dari mengambil di hutan waktunya cukup cepat. Namun masih saja membutuhkan waktu sampai empat tahun, walau pun tinggal menumbuhkan dan menyuburkan batangnya saja," ujarnya.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved