Demo Saat Pandemi, Ahli Epidemiologi Ingatkan Ini : Bukan Tidak Mungkin Muncul Klaster Demonstran

Menurutnya, pada usia tersebut cukup sulit untuk mengindahkan imbauan penerapan protokol kesehatan diantaranya pemakaian masker.

Penulis: Shinta Dwi Anggraini | Editor: Weni Wahyuny
TRIBUN SUMSEL/SHINTA DWI ANGGRAINI
TOLAK UU OMNIBUS LAW - Ribuan massa saat memasuki gedung DPRD Sumsel dalam aksi hari kedua penolakan disahkannya Undang-Undang Omnibus Law Cipta Kerja yang digelar di Palembang, Kamis (8/10/2020). 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Ahli epidemiologi dari Universitas Sriwijaya (Unsri) Dr. Iche Andriani Liberty mengingatkan pentingnya untuk menerapkan protokol kesehatan sekalipun saat sedang menggelar aksi demo.

Meski sulit untuk mencegah terjadinya kerumunan, masyarakat yang menggelar aksi disarankan untuk tetap memakai masker sesuai standar sebagai upaya perlindungan guna mencegah timbulnya resiko penularan covid-19.

"Gunakan juga face shield dan hand sanitizer. Setelah itu ketika pulang ke rumah, hati-hati dengan kemungkinan virus yang bisa saja menempel di pakaian," ujarnya.

"Langsung lepas dan bersihkan (rendam) pakaian yang digunakan tadi dengan air dan detergen. Jangan sampai membawa virus ke rumah. Ingat bahwa harus tetap melindungi keluarga," sambungnya.

Mucikari di Palembang Ditangkap, Jajakan Gadis Usia 17 Tahun : Dia Datang ke Saya, Saya Tak Memaksa

Viral Sosok Polisi Ganteng Tenteng Helm saat Demo Tolak UU Cipta Kerja, Identitasnya Terkuak

BREAKING NEWS : Seorang Anak Punk Ditemukan Tewas di Ruangan Eks SMKN 1 Muara Enim, Buat Geger

Siapa sih Indah Mujyaer? Kenakan Wig Merah, Habiskan Uang Rp5 Juta Traktir Demonstran di Palembang

Sosok Indah Mujyaer, Wanita Rambut Merah yang Traktir Mahasiswa saat Demo di Kantor Gubernur Sumsel

Seperti diketahui, sejak disahkannya undang-undang omnibus law cipta kerja oleh DPR RI, gemuruh penolakan terus terjadi di berbagai wilayah tak terkecuali Sumatera Selatan (Sumsel).

Ribuan massa dari berbagai kalangan diantaranya mahasiswa, buruh, petani hingga aktivis dari berbagai aliansi, tumpah ruah turun ke jalan untuk menyuarakan penolakannya.

Di beberapa tempat, aksi tersebut bahkan diwarnai ketegangan yang berujung ricuh.

Dikatakan Iche, aksi demo yang digelar selama pandemi memang merupakan suatu polemik.

Hal itu dikarenakan, risiko penularan virus corona masih sangat tinggi terjadi saat ini.

"Disaat situasi pandemi penularan di masyarakat masih tinggi, sementara kita dihadapkan dengan masalah penolakan atas omnibus law yang oleh teman-teman kita disampaikan melalui unjuk rasa. Dan tentunya pada saat unjuk rasa berlangsung, protokol kesehatan jaga jarak sangat sulit dilakukan," ujarnya.

Apalagi mayoritas massa yang menggelar aksi adalah anak-anak muda.

Menurutnya, pada usia tersebut cukup sulit untuk mengindahkan imbauan penerapan protokol kesehatan diantaranya pemakaian masker.

Termasuk dengan media saat menyampaikan orasi.

Seperti teriakan dan pengeras suara yang digunakan secara bergantian tanpa diberi disinfektan sebelumnya, dikatakan Iche menjadi salah satu media yang begitu tinggi dalam memicu risiko penularan berbagai virus tak terkecuali covid-19.

"Tentu hal itu akan berpengaruh terhadap jarak dari percikan droplet. Seperti yang kita tahu, saat ini idealnya jaga jarak minimal 1,5-2 meter dan memang sangat sulit untuk diterapkan saat demo. Ditambah lagi masker masih bongkar pasang. Padahal saat demo itu sangat rentan sekali terjadinya penularan virus corona," ujarnya.

Untuk itu ia mengimbau bagi seluruh peserta demo untuk segera mendatangi fasilitas kesehatan bila merasa timbul gejala terjangkit virus corona.

"Karena bukan tidak mungkin akan muncul klaster demonstran penularan virus corona, " ujarnya

"Untuk itu kita menaruh harapan kepada aparat supaya tidak hanya menertibkan, tetapi juga membantu mengawasi protokol kesehatan terutama pemakaian masker. Karena mereka (massa yang menggelar aksi demo) juga punya keluarga, tetangga, teman sejawat bekerja yang harus dilindungi dari risiko penularan covid-19 ," ujarnya.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved