Breaking News:

Pilkada Serentak 2020

Ekonomi Masyarakat Melemah, Awas Bahaya Money Politic Pilkada di Tengah Pandemi Covid-19

Saat melemahnya kondisi ekonomi masyarakat, akibat pandemi Covid-19, politik uang menjadi praktik yang lebih rawan terjadi

Penulis: Arief Basuki Rohekan | Editor: Wawan Perdana
Tribunnews.com/Amriyono Prakoso
Direktur Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Titi Anggraini 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG-Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) mengingatkan kepasa masyarakat, untuk lebih waspada terhadap praktik politik uang jelang Pilkada 2020, khususnya daerah yang melaksanakan Pilkada 2020.

Saat melemahnya kondisi ekonomi masyarakat, akibat pandemi Covid-19, politik uang menjadi praktik yang lebih rawan terjadi.

"Sejak awal saya memprediksi politik uang atau money politik akan masif, dan ini perlu diperhatikan," kata Direktur Eksekutif Perludem Titi Anggaraini‎, Selasa (7/7/2020).

Menurut wanita asal Sumsel ini, masifnya politik uang itu indikasinya ada beberapa hal yang dilakukan para petahana.

Mantan Wagub Sumsel Jadi Rivalnya di Pilkada OKU, Kuryana: Jika Syarat Terpenuhi Silakan Saja

"Sejak awal sudah ada kepala daerah mempolitisasi bansos (bantuan sosial). Lalu survei SMRC dan Indikator yang menyebut mayoritas bansos salah sasaran," jelasnya.

Kemudian dikatakan Titi, data yang menunjukkan ekonomi warga terdampak dan terpuruk karena pandemi, sangat riskan dimanfaatkan orang untuk melakukan money politik.

"Kondisi obyektif sulitnya ekonomi warga yang bila bertemu dengan sikap pragmatisme kandidiat, maka sangat membuka lebar celah parktik politik uang," jelasnya.

Selain itu, kinerja pengawas pemilu yang terbatas menjadikan pengawasan terjadinya pelanggaran maupun politik uang lebih leluasa terjadi.

"Apalagi ruang gerak pengawasan kan terbatas, akibat adanya kondisi pandemi yang membuat mobilitas warga dan pengawas menjadi lebih terbatas. Ruang-ruang sunyi warga yang ekonominya terpuruk, akan sangat rentan dimanipulasi oleh kandidiat yang pragmatis," tandasnya.

Akhirnya yang sangat mengkhawatirkan, baik dari sisi ancaman terhadap kualitas pilkada dan mutu demokrasi lokal yang ada, dengan menghasilkan pemimpin yang tidak berkualitas.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved