Sumsel Virtual Fest 2020

Kisah Perjuangan Rhoma Irama dan Soneta, Dilempar Batu Sampai Dituduh Menjual Ayat-ayat Alquran

Saat itu, main musik identik dengan meninggalkan salat, minum-minuman keras, kemudian pergaulan bebas. Ini yang menjadi keresahan saya.

Penulis: Agung Dwipayana | Editor: Eko Adia Saputra
Istimewa
Sumsel Virtual Fest 2020 

Kisah Perjuangan Rhoma Irama dan Soneta, Dilempar Batu Sampai Dituduh Menjual Ayat-ayat Alquran

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Tribun Sumsel dan Sriwijaya Post sukses menghadirkan Rhoma Irama dalam program Sumsel Virtual Fest 2020 sebagai bintang tamu pada Senin (22/6/2020).

Acara itu berlangsung pukul 16.00 hingga 17.00 dengan pembawa acara Kepala Newsroom Tribun Sumsel dan Sriwijaya Post, Hj. L. Weny Ramdiastuti, Ketua DPW Fans of Rhoma and Soneta (Forsa) Sumsel, Dr. H. Saefudin Latief, M.Si, dan Redaktur Tribun Sumsel, Eko Adia Saputro. BE.

Banyak hal yang dibahas pada acara ini, mulai dari produktivitas dan keseharian Rhoma Irama selama pandemi Covid-19, mengulas sejarah bedirinya Soneta Group, hingga persiapan menuju 50 tahun Soneta Group.

Berikut kami rangkum perbincangan dengan Rhoma Irama:

Apa saja kegiatan Pak Haji Rhoma selama pandemi ini?

Saya di samping stay at home dengan keluarga di rumah, aktivitas saya ya berenang, baca-baca Alquran, fingering, latihan vokal. Begitu juga kalau sedang berada di studio, aktivitas saya di sana ya olahraganya goes, naik sepeda, bikin-bikin lagu, rekaman, melepas rindu dengan mengundang teman-teman (personel) Soneta Group latihan bersama, ya itulah kira-kira sampai akhirnya dengan renungan-renungan saya berhasil melahirkan sebuah lagu yang berjudul Virus Corona.

Tidak lama lagi Soneta Group akan berulang tahun ke-50, ada persiapan khsusus?

Saya ingin memberi piagam penghargaan kepada para almarhum personel Soneta yang telah berpulang ke Rahmatullah. Ya, sekadar santunan untuk keluarga yang ditinggalkan. Kemudian piagam penghargaan kepada mantan-mantan pemain (personel) Soneta Group yang pernah berkiprah bersama.

Tentunya mulai dari formasi pertama, yang meningal itu kan H. Ayub (timpani dan tamborin), H. Riswan (keyboard), H. Herman (basis), dan H. M. Nasir (mandolin). Sekarang formasi pertama yang masih ada, tapi sudah tidak ikut tampil masin musik lagi ada H. Hadi (seruling) dan Wemphy (rithem). Nah, tujuh orang (personel) formasi pertama saya akan berikan penghargaan Insya Allah, Selasa (23/6/2020) di Soneta Record.

Kemudian formasi kedua, seperti H Hafiz (gendang), alm H. Popong (basis), Didi (rithem), dan Sawaludin (tenor). Selebihnya adalah formsi ketiga sampai sekarang. Nah itu Insya Allah akan diselenggarakan upacara kecil penyerahan penghargaan itu. Itu persiapan internal dari Soneta. Ada juga dari pihak publisher akan melahirkan edisi rangkuman lagu-lagu Rhoma Irama dalam piringan hitam, kemudian dalam satu paket bag itu ada piringan hitam, ada CD, ada poster dan lain-lain.

Selanjutnya memang ada rencana dari Synchronize Festival menampilkan Soneta pada Oktober mendatang. Insya Allah akan dikolaborasikan dengan Dipha Barus (DJ). Selain itu, rencananya akan ada penampilan Soneta di Gelora Bung Karno (GBK), tentunya didampingi grup-grup musik lain dalam rangka ulang tahun Soneta, wallahu a'lam.

Rhoma Irama akan menjadi tamu istimewa Tribun Sumsel dan Sriwijaya Post.
Rhoma Irama akan menjadi tamu istimewa Tribun Sumsel dan Sriwijaya Post. (SRIPO/ANTON)

Bisa diceritakan, sejarah terbentuknya Soneta Group?

Semua berawal dari keresahan dalam hati saya. Saat itu, main musik identik dengan meninggalkan salat, minum-minuman keras, kemudian pergaulan bebas. Ini yang menjadi keresahan saya. Akhirnya dalam tiap salat saya, dalam sujud-sujud terakhir saya, saya berdoa, ya Allah seandainya musik ini memperlebar jalanku ke neraka, tolong dicabut bakat saya ini.
Tapi seandaianya bakat atau talenta yang Engkau hembuskan dalam dadaku ini bisa membawaku kepada keridhaan-Mu maka tolonglah bimbing saya. Itu doa saya selalu. Itu terus berkecamuk dalam diri saya. Kalau main musik terus seperti ini (meninggalkan salat, mabuk-mabukan, pergaulan bebas), saya rasanya mau mundur dari dunia (musik) ini.

Akhirnya saya kumpulkan semua personel Soneta yang sebut 7 orang formasi pertama, saya nyatakan sikap saya. Ini sesuatu yang tidak pernah muncul dalam diri seorang seniman saat itu. Saya bilang kepada mereka (para personel), kalau musik harus seperti ini (meninggalkan salat, mabuk-mabukan, pergaulan bebas) saya mau berhenti main musik. Sekarang saya bertekad menjadikan musik ini sebagai media dakwah, menyeru umat beramar makruf ber-nahi mungkar melalui musik.
Karena itu, mulai detik ini tidak ada lagi namanya meninggalkan salat, minum-minuman keras dan semacamnya. Nah, untuk itu saya mau tanya sama kalian (para personel), apakah Anda setuju? Apakah Anda siap bermusik di jalan Allah? Bermusik tanpa meninggalkan salat, tanpa minum-minuman keras, tanpa pergaulan bebas? Kalau setuju, silakan jabat tangan saya. Saat itulah mereka semua menjabat tangan saya, dan saat itu 13 Oktober 1973.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved