59 Ribu Debitur Ajukan Restrukturisasi Kredit, OJK Sebut 30 Persen Diantaranya Sudah Disetujui

Restrukturisasi kredit harus diajukan oleh debitur dan akan dinilai apakah layak mendapatkan keringanan atau tidak, bukan otomatis langsung direstrukt

Kompas.com
Logo OJK 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 7 Sumatera Bagian Selatan mencatat 59.542 debitur mengajukan restrukturisasi kredit ke perbankan hingga 27 April.

Dari jumlah tersebut, tercatat sebanyak 13.621 debitur dengan nominal Rp1.55 triliun yang sudah disetujui atau 30 persen dari total debitur yang mengajukan restrukturisasi kredit.

Kepala OJK Regional 7 Sumatera Bagian Selatan Untung Nugroho mengatakan restrukturisasi kredit merupakan upaya pemerintah memberikan kelonggoaran kredit kepada masyarakat yang terkenda dampak ekonomi akibat wabah Covid-19 sesuai dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 11/POJK.03/2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional Sebagai Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Coronavirus Disease 2019 (Covid-19).

"Restrukturisasi kredit harus diajukan oleh debitur dan akan dinilai apakah layak mendapatkan keringanan atau tidak, bukan otomatis langsung direstrukturisasi," ujarnya, Sabtu (9/5/2020).

Sementara itu Pimimpin Wilayah BNI Palembang Dodi Widjajanto mengatakan Pandemi Corona juga berdampak terhadap perbankan dan BNI mendukung program pemerintah melakukan restrukturisasi kredit untuk membantu sektor usaha rakyat agar perekonomian tetap berjalan.

Namun bagi sektor usaha yang tidak terdampak langsung diharapkan bisa tetap memenuhi kewajibannya membayar angsuran.

Restrukturisasi kredit yang diberikan BNI yakni bebas bunga KUR selama enam bulan ke depan dan pokok angsuran juga ditangguhkan enam bulan ke depan.

"BNI Palembang sudah menyetujui 15 ribu debitur yang terdampak Corona dengan jenis pinjaman Rp 500 juta hingga lebih dari Rp 1 miliar, khusus di Sumsel enam ribu debitur yang sudah disetujui," ujarnya.

Hingga kini masih ada sejumlah debitur yang mengajukan restrukturisasi kredit dan hanya diberikan kuota 70 persen dari kuota KUR yang ada sehingga debitur yang duluan mengajukan dan sesuai kriteria akan langsung disetujui.

"Kami dari perbankan pasti akan terus support kepada nasabah karena kami bank pasti tidak akan bisa bisnis kalau nasabahnya juga tidak berkembang bisnisnya. Tentu tidak akan semua bisa dibebaskan atau dihilangkan biaya transaksinya karena bank tetap perlu biaya untuk operasional Bank. Namun degan kemajuan teknologi transaksi akan semakin efisien, cepat, akurat tapi tetap aman," tutup Dodi.

Penulis: Hartati
Editor: Weni Wahyuny
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved