Ada Pabrik Karet di Palembang Tak Terima Pasokan dari Prabumulih, Takut Corona

Ketua Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumsel Alex K Eddy mengakui memang ada salah satu perusahaan karet di Palembang

Sripo/ Leni Juwita
Ilustrasi getah karet. 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Ketua Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumsel Alex K Eddy mengakui memang ada salah satu perusahaan karet di Palembang menolak suplai karet dari Prabumulih.

Penolakan ini dilakukan karena khawatir karet tersebut juga terkontaminasi virus Corona karena Prabumulih ditetapkan sebagai daerah zona merah penyebaran virus corona (COVID-19).

"Iya manajemen perusahaan membuat kebijakan dan membuat selebaran tidak menerima karet dari Prabumulih karena khawatir corona," ujar Alex, Selasa (7/4/2020).

Alex mengatakan sudah memberi penjelasan manajemen perusahaan tersebut untuk tidak membuat kebijakan tersebut karena akan berdampak negatif. Petani sulit menjual karet padahal mereka juga butuh uang untuk makan.

Dia memastikan perusahan karet lainya tidak memberlakukan kebijakan menolak karet dari Prabumulih dan petani bisa menjual ke perusahaan lainnya.

Alex mengimbau pada semua anggota asosiasi agar lebih meningkatkan kewaspadaan dan kebersihan diri juga lingkungan untuk mengantisipasi penyebaran Corona. Setiap mobil yang masuk baik mobil pribadi atau mobil truk pengangkut karet harus disemprot disinfektan agar streril. Petani dan pekerjaan diwajibkan menggunakan masker, menjaga jarak, dan rutin mencuci tangan setelah berkaktivitas.

Meksi sudah memberi himbuan pada manajemen perusahaan tersebut agar tidak menolak karet Prabumulih, namun Alex belum memastikan apakah perusahaan itu sudah kembali menerima karet yang dijual dari petani di Prabumulih atau belum.

Dia juga meminta agar dinas terkait atau pemerintah Prabumulih membuatkan posko khusus dan melengkapi surga keterangan sehat juga stril bagi petani atau siapa saja yang keluar dari Prabumulih. Hal ini untuk memastikan bahwa orang tersebut sehat sehingga tidak kekhwatiran dan praduga buruk.

"Kejadian ini menjadi pelajaran, petani ingin tetap produktif tapi kita juga yang berhubungan langsung khawatir karena kontak dengan orang dari zona merah sehingga timbul ketidaknyamanan, kalau dibekali surat keterangan sehat akan lebih baik sama-sama tidak khawatir," ujarnya.

Diketahui, Prabumulih merupakan salah satu sentra penghasil karet, di mana terdapat 13.369 kepala keluarga (KK) yang mengandalkan komoditas itu sebagai mata pencariannya. Produksi karet Prabumulih mencapai 19.120 hektare dengan total produksi sebanyak 11.787 ton karet kering.

Penulis: Hartati
Editor: Prawira Maulana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved