Antisipasi Virus Corona

Siswa SMKN 2 Lubuklinggau Kebut Produksi Ribuan Masker dan Ratusan Hazmat

Suasana riuh mesin jahit memecah keheningan digerakkan tangan-tangan terampil siswa didik SMK Negeri 2 Lubuklinggau

Tribun Sumsel/ Eko Hepronis
Siswi SMKN 2 Lubuklinggau saat membuat hazmat dan masker, Selasa (31/3/2020). 

TRIBUNSUMSEL.COM, LUBUKLINGGAU-Suasana riuh mesin jahit memecah keheningan digerakkan tangan-tangan terampil siswa didik SMK Negeri 2 Lubuklinggau.

Mereka ingin memberi kontribusi untuk penanganan pandemi virus Corona yang semakin meluas akhir-akhir ini.

Tangan-tangan terampil siswa jurusan tata busana ini berjuang membuat puluhan alat pelindung diri (APD) hazmat dan masker pesanan dari Kabid SMK Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel).

Kepala SMKN 2 Lubuklinggau, Eriani mengungkapkan alat APD ini mulai diproduksi di SMKN 2 Lubuklinggau sejak Sabtu (28/3) lalu dan sebagian bahan didatangkan khusus dari DKI Jakarta.

"Pengerjaannya dilakukan 17 siswa kelas XI khusus membuat 4.000 masker medis. Dan 15 siswa kelas XII membuat hazmat dari bahan parasut 100 pieces (pcs) dan dari bahan spondbund 75 GSM 100 pcs," katanya pada wartawan, Selasa (31/3/2020).

Jokowi Umumkan Pelanggan PLN 450 VA Digartiskan Selama Tiga Bulan, Ini Kata PLN Wilayah Sumsel

Menurutnya, Kabid SMK Dinas Pendidikan Provinsi Sumsel tersebut memesan 200 APD.

Saat ini pengerjaannya tengah dikebut dan ditargetkan rampung dalam waktu dekat.

"Pesanannya minta dibuatkan 200 pcs, sekarang kami kebut ini dulu. Sedangkan yang sudah menunggu saat ini pesanan PKK Lubuklinggau sebanyak 4.000 pcs masker," ungkapnya.

Ia menuturkan, palam proses setiap produksi, peserta didik yang akan memulai pekerjaan diwajibkan mematuhi protokol Dinas Kesehatan.
Koordinator Proses Penjahitan dengan dibantu para dewan guru.

"Saat ini sudah 6 pcs hazmat dikirim ke Pemprov Sumsel melalui Disdik Sumsel. Hasilnya disetujui, barulah kita dipercaya membuat 200 pcs hazmat. Untuk dua pekan ini targetnya 47 pcs selesai," terangnya.

Satu Tenaga Medis Terinfeksi Corona Dari Pasien Asal Prabumulih, OKI Konfirmasi 1 Kasus Covid-19

Ia menambahkan, produksi hazmat ini sebagai pengganti Uji Kompetensi Keahlian (UKK) yang batal diadakan sesuai Surat Edaran (SE) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nomor 4 Tahun 2020.

"Sistem kerjanya juga kami samakan dengan garmen. Jadi seluruh pola dipotong dan diukur dulu, baru dijahit."

"Sementara jika tidak selesai nanti kami bawa ke rumah bahannya, jahit di rumah, khusus hazmat dibuat untuk all size harapannya semua tenaga kesehatan bisa memakainya," paparnya.

Penulis: Eko Hepronis
Editor: Wawan Perdana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved