Rela Tangan Menghitam Terpapar Uap Panas Demi Desain Batik

UNTUK bergerak di bidang bisnis Batik Kujur, tak pernah terbayang bagi gadis yang memiliki nama lengkap Maya Rizki atau yang kerap disapa Maya ini.

Penulis: Ika Anggraeni | Editor: Ray Happyeni
TRIBUNSUMSEL
Maya Rizki tekun membatik tak peduli tangan menghitam terkena uap panas. 

UNTUK bergerak di bidang bisnis Batik Kujur, tak pernah terbayang bagi gadis yang memiliki nama lengkap Maya Rizki atau yang kerap disapa Maya ini.

Program Tanjung Enim sebagai Kota Wisata dan berangkat dari pelatihan pemberdayaan masyarakat yang dilaksanakan dari program CSR PT Bukit Asam membuat namanya belakangan ini menjadi familiar dari hasil batik yang ia buat dengan hasil karya tangannya sendiri.

Saat disambangi Tribun Sumsel di rumahnya sekaligus tempat produksi batik di Jalan Duta Belakang Bank BRI No.323 Dusun Tanjung Kecamatan Lawang Kidul Kabupaten Muaraenim, Maya berbagi cerita terkait usaha yang ia geluti beberapa tahun belakangan ini.

Dikatakan Maya, awal mula mengenal batik dari program pemberdayaan masyarakat yang dilaksanakan PT Bukit Asam.

"Sebagai wujud kepedulian dan penghargaan kepada masyarakat Tanjung Enim, PT Bukit Asam Tbk ikut berpartisipasi dalam menggeliatkan perekonomian masyarakat di Tanjung Enim pada khususnya dan Muaraenim pada umumnya," katanya.

Di bidang pariwisata industri kreatif, maka dibuatlah program sentra Bisnis Bukit Asam.

"Salah satu andalannya adalah dengan mengembangkan usaha kecil dan menengah di bidang pengembangan pembuatan batik khas Tanjung Enim yang diberi nama Batik Kujur. Dimana kami dilatih bersama beberapa warga dalam kelompok untuk diajarkan bagaimana cara membatik. Awalnya sih sempat pesimis, untuk bisa, karena saya belum pernah sama sekali membatik. Namun setelah mengikuti pelatihan kamipun terus dibina agar bisa mandiri," katanya.

Ia menjelaskan alasan batik tersebut diberi nama Batik Kujur karena "Kujur" adalah senjata khas pendiri cikal bakal kota Tanjung Enim di tahun 1316 M yang awalnya bernama Kute Tanjung Ayek Hening. Pendiri Kota Tanjung Enim ini bernama Syeh Palawa murid Syeh Jalaludin.

"Oleh penduduk Tanjung Enim dikenal dengan Syeh Puyang Pelawe, Kujur senjata Puyang Pelawe berbentuk tombak yang terbungkus bambu. Untuk mengenang sang Puyang Pelawe maka senjata beliau diabadikan dalam batik dengan berbagai design bentuknya. Ada yang dipakai sebagai lis batik ataupun tersusun membentuk pucuk rebung model khas tumpal Tanjung Enim," katanya.

Ia juga mengungkapkan setelah dibina melalui kelompok usaha bersama batik kujur, pelan-pelan akhirnya bisa mandiri dengan modal sendiri.

"Alhamdulilah sekarang kebanjiran orderan, dan sekarang menjadi profesi baru, kalau kemaren banyak ibu-ibu nganggur, sekarang bisa diberdayakan, dan bisa jadi penghasilan," katanya.

Ia juga mengatakan dari produksi batik kujur ini dalam sebulan ia bisa meraih omset lebih dari Rp 20 juta.

"Tergantung pesanan dan bahan yang dipesan, semakin bagus bahan ya harganya semakin tinggi. Karena ada kualitas ada harga, tapi itu tadi uangnya belum bisa untuk ditabung banyak, karena harus modalnya harus diputarkan," katanya.

Ia mengatakan demi mendapatkan design dan batik yang sempurna, ia rela tangan halusnya berubah warna menjadi gelap dan harus menahan panas dari uap lilin yang terpanggang di atas api.

"Ya mau tidak mau, apapun pekerjaan pasti ada risiko, demi kepuasan pelanggan, tidak apa-apa," katanya sambil tersenyum.(ika)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved