Mantan Kades di Lahat Ditangkap Polisi Karena Memeras Rp 2 Miliar, Sempat Jadi Buronan

Harlinsyah (45) mantan Kepala Desa Tanjung Menang Kecamatan Tanjung Tebat Kabupaten Lahat ditangkap polisi.

EHDI AMIN/SRIWIJAYA POST
Kapolres Lahat AKBP Irwansyah saat konferensi pers. 

TRIBUNSUMSEL.COM, LAHAT - Harlinsyah (45) mantan Kepala Desa Tanjung Menang Kecamatan Tanjung Tebat Kabupaten Lahat ditangkap polisi.

Harlinsyah dibekuk anggota Satreskrim Polres Lahat, setelah diduga melakukan tindak pidana pemerasan dan pengancaman terhadap PT BUMA.

Tak tanggung-tanggung, dengan dalih meminta kompensasi atas penggunaan jalan oleh pihak perusahaan, Harlinsyah, meminta uang Rp2.500.000.000 kepada pihak PT BUMA.

Namun, permintaan tersebut tak digubris oleh perusahaan yang bergerak di bidang galian C itu.

Merasa tak digubris, Harlinsyah bersama sekelompok warga nekat melakukan pemortalan jalan menuju lokasi sehingga pihak perusahaan tak bisa masuk.

"Kejadianya 23 Juli 2019 lalu. Pelaku menutup akses jalan perusahaan dengan memasang portal. Alasanya meminta kompensasi. Namun, ditolak karena pihak perusahaan sendiri di tahun 2018 sudah memberikan kompensasi kepada pelaku termasuk membebaskan lahan tersebut kepada warga di tahun 2013," tegas Kapolres Lahat, AKP Irwansyah, SIK, saat press conference, Rabu (19/2).

Ditambahkan Irwansyah, pihak perusahaan lantas melaporkan perbuatan yang dilakukan pelaku.

Namun, setelah berkas perkara yang dilimpahkan ke JPU dan dinyatakan lengkap dan saat akan ditangkap pelaku tidak ada ditempat dan diketahui melarikan diri ke Jakarta sehingga diterbitkan DPO terhadapnya.

"Setelah sempat DPO pelaku menyerahkan diri dan saat ini sudah diamankan. Pelaku melanggar pasal 368 KUHPidana atau pasal 162 UU RI No 4 tahun 2009 tentang pertambangan mineral dan batubara, "tegasnya.

Sementara, Pengacara Harliansyah, Rusdi Hartoni Somad, mengatakan tidak pemaksaan dalam permintaan konoensasi.
Dikatakannya, permintaan tersebut berdasarkan perjanjian dimana pihak perusahaan akan memberikan Rp4 ribu perkubik sebagai konpensasi.

Namun, hal itu tidak pernah diberikan setelah beberapa tahun sehingga menurut penuturan Harlinsyah, total konpensasi sudah mencapai 2 miliar lebih.

"Kita akan hadapi proses hukum ini dahulu. Baru nanti akan bahas soal melaporkan balik pihak perusahaan, "terang Rusdi.

Editor: Prawira Maulana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved