Berikut 3 Cara Agar Pemuda Terhindar dari Radikalisme

Pemerintah harus tanggungjawab dalam mensosialisasikan 4 pilar kepada seluruh masyarakat Indonesia sebagai suatu pendidikan kewarganegaraan.

Berikut 3 Cara Agar Pemuda Terhindar dari Radikalisme
TRIBUN SUMSEL/MELISA WULANDARI
ULANGTAHUN HPP - Rektor Unitas Palembang Drs H Joko Siswanto MSi saat menjadi pembicara di kegiatan Ulang Tahun HPP Muratara yang dilaksanakan di Kafe Rumah Kawe Palembang beberapa waktu lalu 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Banyak hal yang bisa memicu radikalisme di kalangan pemuda di Indonesia tetapi sebagai negara yang memiliki Pancasila sebagai ideologi negara ada banyak cara menghindari radikalisme ini.

Rektor Universitas Taman Siswa (Unitas) Palembang Drs H Joko Siswanto MSi saat menjadi pembicara di kegiatan ulang tahun Himpunan Pemuda Perantau (HPP) Muratara di Kafe Rumah Kawe Palembang beberapa waktu lalu mengatakan ada tiga cara agar pemuda terpapar radikalisme.

"Pemerintah harus tanggungjawab dalam mensosialisasikan 4 pilar kepada seluruh masyarakat Indonesia sebagai suatu civic education atau pendidikan kewarganegaraan," katanya.

Kemudian, saat ini kegiatan pembentukan karakter supaya cinta tanah air kurang begitu ditekankan. "Mestinya anak muda itu ikut Pramuka dan Pramuka juga harus dimasifkan, bagi yang mahasiswa bisa ikut Menwa ikut kegiatan seperti ini kan merupakan sarana membangkitkan nasionalisme agar anak-anak tidak terpapar dari radikalisme," jelasnya.

"Dan cara terakhir adalah pengawasan terhadap orang yang berceramah. Makanya sekarang kan ada isu bahwa jadi bahan omongan bahwa ustaz itu harus bertifikat ini merupakan upaya-upaya mencegah terjadinya orang-orang yang berlebihan, Islam di Indonesia ini Islam yang moderat bukan Islam garis keras," katanya

Dia mengatakan hal ini dilakukan dengan tujuan agar di masjid jangan ada isi ceramah-ceramah agama yang memberi inspirasi anak-anak muda itu berafiliasi kepada ajaran-ajaran yang ekstrem. "Hal itu kan tidak cocok untuk bangsa Indonesia, Islam yang dibawa Wali Songo itu mencerminkan Islam yang ada di Indonesia," ujarnya.

Saat diskusi tentang radikalisme ini Joko juga menjelaskan apa yang dimaksud dengan radikalisme, apa itu separatisme. "Kenapa kita NKRI itu harus pertahankan, Bhineka Tunggal Ika harus dipertahankan karena separatisme maupun radikalisme itu ancaman bagi negara," ujar pria yang yang juga salah satu dosen di FISIP Unsri ini.

"Dan anak-anak muda mudah terpapar oleh ajaran radikalisme karena kita pernah mengalami kekosongan. Ada masa jedah ketika habis reformasi pada waktu itu, orang sepertinya menjauhkan diri dari ideologi pancasila di sisi lain," jelasnya.

Karena masyarakat dan pemerintah kurang peduli terhadap pancasila, ideologi lain yang kanan maupun kiri yang ekstrem yang kemudian radikal ini muncul dengan segala macam metode mengembangkan pengaruhnya kepada masyarakat Indonesia khususnya anak-anak muda.

"Para pengembang ideologi ini dengan segala macam cara dan radikalisme yang terjadi di Indonesia lebih disebabkan oleh ajaran yang salah ditafsirkan salah satunya ajaran agama Islam, namun tampaknya ekstrem kanan atau organisasi Islam yang ekstrem itulah sumber radikalisme dan arahnya ke terorisme," katanya

Jadi ada semacam perkembangan tahapan pertama kali itu intoleransi, sikap ini kalau sudah tidak toleran mudah sekali mengembangkan ideologi yang radikal. "Ketika mudah terpapar radikalisme dalam dirinya dan pemikiran maka untuk diajak bertindak teror atau melakukan terorirasi kemudian ideologinya namanya terorisme orangnya namanya teroris itu mudah banget terpapar," jelasnya.

Itulah sebabnya anak-anak muda yang jadi teroris itu kan dibekali karena sikap intoleransi itu dulu kemudian radikalisme dan menjadi teroris. Ini yang menjadi keprihatinan. "Saya sambut baik adanya diskusi ini dan pemuda dari HPP Muratara ini juga sangat antusias mereka juga mengadakan deklarasi anti radikalisme," katanya.

"Berpikir radik itu boleh tetapi kalau sudah radikalisme itu yang konotasi negatif ya tidak boleh, karena radikalisme berhubungan dengan ideologi, kalau separatisme kepengen melepaskan diri dari negara Indonesia itu juga membahayakan tapi tidak ada kaitannya dengan ideologi," ujarnya.

Terorisme itu lebih kepada ingin mengubah ideologi pancasila dengan ideologi lain. Seperti Islam ekstrem itu tadi, Islam yang bukan moderat padahal Islam di Indonesia itu Islam rahmatan lil alamin, Islam yang moderat. (melisa/adv)

Penulis: Melisa Wulandari
Editor: Vanda Rosetiati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved