Kolaborasi OJK: Melepas Jerat Rentenir Lewat Peningkatan Akses Keuangan

Kepala Kantor OJK KR 7 Sumbagsel, Panca Hadi Suryatno, mengatakan bahwa pihaknya memang gencar memperluas akses keuangan ke daerah

Kolaborasi OJK: Melepas Jerat Rentenir Lewat Peningkatan Akses Keuangan
Kompas.com
Logo OJK 

Kolaborasi OJK: Melepas Jerat Rentenir Lewat Peningkatan Akses Keuangan

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Jerat rentenir seringkali mengikat petani yang terdesak kebutuhan dana segar untuk menggarap lahannya.

Alih-alih membantu petani lepas dari kendala modal, pemburu rente malah mengisap petani dengan tingginya bunga pinjaman.

Ali Aripin, 39 tahun, petani kopi asal Desa Sinar Nabalan, Kecamatan Buai Pemaca, Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan (OKUS), Sumatra Selatan, adalah petani yang berupaya mengundurkan jerat rentenir sehingga dapat leluasa menikmati jerih payah selama satu tahun menanam kopi.

“Sejak 2001 silam saya sangat bergantung pada rentenir untuk nanam kopi sampai saya berpikir bagaimana caranya lepas dari mereka,” katanya.

Ali mengatakan rentenir yang juga berprofesi sebagai toke yang membeli hasil panen petani itu merupakan satu-satunya sumber dana untuk membeli sarana produksi atau sekadar kebutuhan harian, seperti beras.

Dia mencontohkan jika dirinya meminjam Rp1,2 juta untuk keperluan pupuk dan obat tanaman maka uang yang dikembalikan kepada rentenir tersebut harus senilai Rp1,7 juta.

“Belum lagi sakitnya itu, kalua mau berhutang harus di bulan Desember, kalua sebelum bulan itu tidak bakal dikasih,” keluhnya.

Kini Ali bersama puluhan petani kopi di desanya mulai giat menanam palawija, seperti jagung, juga cabai untuk menambah penghasilan bulanan.

Namun demikian, Ali mengaku, dirinya beberapa kali masih mengandalkan uluran tangan rentenir ketika memasuki masa tanam.

Halaman
123
Penulis: Prawira Maulana
Editor: Siemen Martin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved