Fahri Hamzah Tolak Uang Pensiun, Tapi Masih Mau Menerima Uang Pensiun DPR RI, Segini yang Diterima

Fahri Hamzah Tolak Uang Pensiun, Tapi Masih Mau Menerima Uang Pensiun DPR RI, Segini yang Diterima

TRIBUNNEWS.COM/LENDY RAMADHAN
Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah 

TRIBUNSUMSEL.COM - Fahri Hamzah Tolak Uang Pensiun, Tapi Masih Mau Menerima Uang Pensiun DPR RI, Segini yang Diterima

Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah menilai anggota legislatif tak pantas menerima uang pensiun.

Menurut dia, uang pensiun itu lebih tepat diberikan kepada para birokrat yang telah mengabdi puluhan tahun untuk negara.

“Sebenarnya saya punya teori bahwa yang layak dapat pensiun birokrat. Karena dia kerjanya di dalam struktur negara lebih lama. Kalau politisi itu cuma 5 tahun,” ujar Fahri di Gedung DPR/MPR RI, Jakarta, Senin (30/9/2019).

Kendati begitu, Fahri tetap akan mengambil uang pensiunnya itu.

Menurut dia, itu merupakan penghargaan dari negara untuk para anggota DPR.

“Itu kan begini, itu otomatis, karena kita sudah punya mekanisme transfer gaji selama ini, berarti itu otomatis,” kata Fahri.

Sebelumnya, PT Taspen (Persero) memberikan uang pensiun dan tabungan hari tua (THT) kepada anggota DPR dan DPD yang tak lagi menjabat di periode 2019-2024.

Adapun nominal THT yang diberikan kepada 556 anggota DPR sebanyak Rp 6.218.539.600, sedangkan untuk anggota DPD yang berjumlah 116 orang sebanyak Rp 1.360.705.200.

Direktur Utama Taspen Iqbal Latanro mengatakan, dana THT diberikan hanya sekali untuk tiap anggota DPR dan DPD.

Sementara itu, uang pensiun akan diberikan dalam setiap bulan. Besaran uang pensiun tergantung lama masa jabatan.

"Untuk anggota DPR satu periode uang pensiunnya Rp 3,2 juta. Uang THT-nya sekitar Rp 15 juta," ujar Iqbal di Gedung DPR, Jakarta, Senin.

Sifat Fahri Hamzah Terkuak di Hari Terakhirnya Menjadi Anggota DPR, Jarang Dikunjungi Keluarga

Fahri Hamzah adalah sosok politisi yang kontroversial di mata masyarakat.

Wakil Ketua DPR RI ini sering memberikan kritikan pedas kepada pemerintahan dan terkadang membuat masyarakat geram.

Dikutip Gridhot dari Kompas.com, Fahri bahkan sudah mulai mengemas barang-barang di ruang kerjanya untuk dibawa pulang.

Ketika ditemui wartawan, Fahri nampak menunjukkan beberapa karakter atau sifatnya yang jarang diketahui publik.

Dirinya mengaku sudah mengemasi segala barang pribadinya karena memang punya sifat yang senang rapi.

"Saya masih di sini sampai Senin. Senin sore, lah, Senin malam sudah semua barang, sudah saya kembalikan, saya agak rapi soal ini," kata Fahri di Kompleks Parlemen, Senayan Jakarta, Jum'at (28/9/2019).

Menjadi sosok yang terstruktur, Fahri Hamzah bahkan sudah mempersiapkan boksnya sejak enam bulan lalu.

"Sejak enam bulan lalu saya punya boks sehingga keuangan adminstrasi harta benda teridentifikasi semua," ujarnya.

Fahri juga sudah berprinsip tak akan membawa barang milik negara sekecil apapun itu.

"Sendok milik negara enggak ada yang terbawa, enggak boleh itu. Enggak boleh yang punya negara,"

"Tapi kalau milik saya mungkin boleh saja tertinggal. Yang penting enggak boleh ada milik negara pindah ke rumah saya," ujar dia.

Hanya beberapa buku dan dokumen di mejanya yang belum dikemasi.

“Kalau soal itu saya orang yang terencana, beberapa hari sebelumnya saya sudah buat rencana,"

"Itu sudah ada ratusan kardus, sudah saya pisahkan antara keperluan administrasi, keuangan, keperluan kantor, lalu antara barang negara atau barang milik saya sudah saya pisahkan, ada di sana kalau mau lihat,” ungkap Fahri Hamzah

Fahri Hamzah mengaku kalau dirinya merupaka orang yang rigid atau kaku untuk permasalahan tertentu.

Misalnya seperti mengemasi barang-barang ini.

“Saya rigid kalau masalah itu. Saya panggil staf saya masih ada masalah atau tidak, kalau masih ada akan segera saya selesaikan. Besok Sabtu sudah terakhir mungkin,” ujarnya.

“Rumah dinas juga tak pernah saya pakai, hanya untuk menjamu teman atau bertemu orang,” tambahnya.

Dirinya juga tak melibatkan keluarga sama sekali dalam mengemasi barang-barang.

“Istri saya masuk ruangan ini mungkin baru sekali, anak saya juga. Saya dan istri memiliki prinsip bedakan antara keluarga dan pekerjaan, karena untuk menjadi contoh bagi anak-anak kami untuk tumbuh mandiri, tidak bergantung dengan orang lain,” katanya.

Fahri Hamzah mengaku dirinya tidak merasa sedih harus meninggalkan ruang kerjanya.

“Saya tidak memandangnya secara personal, karena ini adalah jalan perjuangan, biasa ada naik turun dan lika-liku,"

"Di ruang publik saya harus lebih menonjolkan rasional, tapi memang ada teman-teman yang sedih, staf saya ada yang sudah bekerja dengan saya sekitar 10 tahun sedih, tapi itu semua manusiawi lah,” kata Fahri.

Sumber: Kompas
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved