Kemarau, Warga Ramai-Ramai Mandi di Sungai Kelingi Lubuklinggau

Krisis air bersih di Kota Lubuklinggau akhir-akhir ini makin meluas dan semakin parah sejak terjadinya musim kemarau dua bulan terakhir.

Kemarau, Warga Ramai-Ramai Mandi di Sungai Kelingi Lubuklinggau
EKO HEPRONIS/TRIBUNSUMCEL.COM
Mandi di Sungai Muarakelingi. 

TRIBUNSUMSEL.COM, LUBUKLINGGAU - Krisis air bersih di Kota Lubuklinggau akhir-akhir ini makin meluas dan semakin parah sejak terjadinya musim kemarau dua bulan terakhir.

Saat ini sumber-sumber air seperti sumur milik warga sudah mulai mengering, akibatnya banyak warga beraktivitas mandi, cuci, dan kakus (MCK) di Sungai Kelingi.

Pantauan Tribunsumsel.com di Sungai Kelingi wilayah Kelurahan Pasar Satelit Kecamatan Lubuklinggau Utara II tepatnya dekat rumah makan Pagi Sore.

Sejumlah warga sedang melakukan aktivitas mencuci pakaian dan mandi. Saat pulang dari sungai, beberapa dari warga terlihat membawa jerigen berisi air bersih yang diletakkan diatas motornya.

Bahkan ada juga yang sengaja membawa mobil cary penuh sesak berisi derum dan jerigen bolak balik mengangkut air dari Sungai Kelingi.

"Sekarang terpaksa mas mandi dan nyuci di sini (sungai) karena sumur tidak ada airnya lagi, ada dikit keruh," tutur Yati (38 tahun) warga Jl Nangka Lintas Kelurahan Megang, Kecamatan Lubuklinggau Utara II, Rabu (11/9).

Termasuk sebagian warga Cianjur sudah sebulan lebih mandi di Sungai Kelingi. Bahkan saat ini setiap air yang mereka bawa pulang terpaksa untuk kebutuhan mandi, masak dan mencuci.

"Kadang untuk masak juga, kemarau ini airnya cukup bersih dan bening.
Kadang kalau air habis terpaksa membeli air galon untuk sekedar masak," timpal Sum.

Sebelumnya, memasuki musim kemarau PDAM Tirta Bukit Sulap (TBS) Kota Lubuklinggau mengandalkan Sungai Kelingi sebagai sumber utama ai PDAM TBS.

Sebab dua sungai lainnya yakni Kasie dan Apur sudah surut.
"Sungai Kelingi sekarang disedot pakai mesin pompa. Dampaknya distribusi air bersih ke pelanggan sekarang terganggu," kata Kabag Teknik PDAM TBS Hadi beberapa waktu lalu.

Hadi mengakui saat ini PDAM-TBS menerima banyak keluhan pelanggan. Namun ia meminta pelanggan memakluminya karena faktor alam yang tidak bisa dihindari.

"Normalnya distribusi air 80 liter per detik, tapi saat ini hanya 50 liter per detik itupun dilakukan sistem gilir agar semua pelanggan bisa terlayani air bersih," ujarnya.

Penulis: Eko Hepronis
Editor: Prawira Maulana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved