BREAKING NEWS, 2 Bayi Lahir Kembar 4 di Palembang Meninggal Dunia, Ibunda Belum Sempat Lihat

Bayi kembar empat dari pasangan Kristina Adriani (29) dan Yohanes Aprilianus Mahendra (31) lahir secara normal di RSMH Palembang,

BREAKING NEWS, 2 Bayi Lahir Kembar 4 di Palembang Meninggal Dunia, Ibunda Belum Sempat Lihat
Tribun Sumsel/ Linda Trisnawati
Kristina Adriani ibu bayi kembar empat saat di RSMH Palembang, Rabu (11/9/2019) 

1. Usia

"Wanita yang lebih tua cenderung punya kemungkinan lebih besar untuk dapat bayi kembar," ujarnya saat dihubungi Kompas.com pada Jumat (14/4/2018).

Pada usia di atas 35 tahun, wanita cenderung mengeluarkan lebih dari satu folikel sel telur saat masa subur (ovulasi).

Peningkatan produksi ovum ini didorong oleh makin banyaknya follicle stimulating hormone (FSH) pada usia yang lebih matang dibandingkan usia lebih muda.

Kendati demikian, Benny tetap mewanti-wanti ibu hamil di atas usia 35 tahun agar berhati-hati.

Sebab, ada risiko yang mengintai kehamilan pada usia tua, seperti hipertensi.

2. Jumlah Anak

Sebelumnya Benny juga mengatakan bahwa perempuan yang sebelumnya telah punya anak lebih dari satu memiliki peluang yang lebih besar untuk punya anak kembar di kehamilan berikutnya.

"Tandanya sistem reproduksinya tidak ada masalah. Ovulasi juga baik-baik saja sehingga lebih berpotensi besar melepaskan lebih dari satu sel telur saat ovulasi," ujarnya.

Selain ibu dengan banyak anak, ibu yang pernah hamil kembar juga kemungkinannya lebih besar dalam mendapat anak kembar berikutnya.

Pasalnya, sang ibu telah terbukti punya kemampuan memproduksi lebih dari satu ovum.

Meski demikian, Benny belum berani menjamin.

Sebab, belum ada penelitian ilmiah kuat yang mendukung hal tersebut.

"Semua itu mesti dibuktikan secara ilmiah dulu," ujarnya.

3. Metode bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF)

"Pada pembuahan alami peluang hamil kembar adalah satu di antara 80 kehamilan.

Sedangkan dengan IVF, kemungkinan terjadi kehamilan kembar yakni satu di antara lima kehamilan," tuturnya.

Sebab, pada saat menjalani program bayi tabung, rahim ibu ditanami lebih dari satu embrio.

Ini dilakukan supaya keberhasilan program punya anak lebih besar.

Oleh karena itu, bukan tidak mungkin semua embrio berhasil tumbuh sehingga menjadi kehamilan bayi kembar.

4. Etnis

Menurut Benny, etnis tertentu cenderung punya peluang hamil kembar tidak identik yang lebih besar, misalnya etnis Afrika di Nigeria.

"Di Eropa Barat, persentase kehamilan kembar adalah satu di antara 60 kehamilan. Sedangkan di Nigeria kehamilan kembar terjadi pada satu di antara 20 kehamilan," bebernya.

5. Keturunan

Menurut Benny, kembar tidak identik dapat diwariskan dari pihak ibu.

Oleh karena itu, apabila calon ibu punya garis keturunan ibu atau nenek yang punya kembaran tidak identik, peluang perempuan tersebut untuk hamil kembar tidak identik menjadi lebih besar.

" Kembar tidak identik terjadi karena dilepaskannya dua sel telur. Kemampuan wanita untuk menghasilkan lebih dari satu telur saat ovulasi cenderung diturunkan kepada perempuan," ujar Benny.

Dengan demikian, pasangan suami istri bisa mempertimbangkan hal-hal di atas jika menginginkan bayi kembar.

Namun, pastikan untuk tetap berkonsultasi ke dokter kandungan. Lalu yang terpenting, syukuri apa pun yang Tuhan berikan.

Bayi kembar atau tidak sama saja, asal mengasuhnya dengan benar, pesan Benny

Penulis: Linda Trisnawati
Editor: Wawan Perdana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved