Kualitas Udara di Kabupaten Banyuasin Masih Normal

kualitas udara masih normal karena dibawah baku mutu sesuai dengan sertifikat hasil uji yang kita cek

Kualitas Udara di Kabupaten Banyuasin Masih Normal
SRIPOKU.COM/MAT BODOK
Tim DLH Kabupaten Banyuasin memeriksa hasil pengukuran alat High Volume Air sample (HVAS) guna mendeteksi kualitas udara. 

Kualitas Udara di Kabupaten Banyuasin Masih Normal

TRIBUNSUMSEL.COM, BANYUASIN - Meski musim kemarau, kualitas udara di Kabupaten Banyuasin bisa dikatakan normal dan masih sehat.

Hal tersebut dilihat dari hasil pengukuran alat High Volume Air sample (HVAS) guna mendeteksi kualitas udara dari pantauan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banyuasin yang dilakukan pada akhir Juli 2019 lalu di halaman Kantor DLH Banyuasin.

Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan DLH tersebut terdapat Karbon Monoksida (CO)181 masih dibawah pergubnya 30.000, TSP 17, 6 sesuai Pergubnya 230 dan PM10 28, 5 karena Pergubnya 150.

"Jadi, kualitas udara masih normal karena dibawah baku mutu sesuai dengan sertifikat hasil uji yang kita cek," kata Kadin Lingkungan Hidup Izromaita melalui Abas Kurib Kepala Bidang Pengendalian, Pencemaran dan kerusakan lingkungan DLH Banyuasin, Senin (26/8/2019).

Abas menyebut jika munculnya kabut asap yang ada sekarang ini terutama pada pagi hari merupakan kiriman dari daerah lain. Kabut asap yang berasal dari kebakaran Hutan dan Lahan terjadi dari Kabupaten tetangga.

"Kendati demikian, kualitas udara sekarang belum membahayakan bagi kesehatan masyarakat. Sehingga kita belum perlu keluarkan edaran untuk sekolah dan masyarakat agar mengunakan masker karena kondisi udara masih normal," ujarnya.

Hanya yang patut diwaspadai objek vital yakni, wilayahKecamatan Talang Kelapa dan Tanjung Lago. Karena berdekatan dengan Bandara, maka harus dijaga jangan sampai terjadi kabut asap dan menganggu aktivitas penerbangan.

Selain itu, pihaknya juga melakukan kegiatan rutin dengan bersosialisasi ke masyarakat di agar tidak membuka lahan dengan cara membakar yang bedampak kabut asap.

"Kita ada alat teknologi tepat guna (TTG): pembuatan asap cair, yang bahan-bahanya dari ranting-ranting dan daun yang biasa dibakar, dengan alat ini dapat diubah menghasilkan asap cair," katanya. (mbd-sp)

Editor: Eko Adiasaputro
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved