Nilai Ekspor Sumatera Selatan Turun Drastis Hingga 20,35 Persen

Nilai ekspor Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) pada Juni 2019 sebesar US$ 302,78 juta mengalami penurunan tajam hingga 20,35 persen

Nilai Ekspor Sumatera Selatan Turun Drastis Hingga 20,35 Persen
Tribun Sumsel/ Retno Wirawijaya
Kebun karet warga di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG — Nilai ekspor Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) pada Juni 2019 sebesar US$ 302,78 juta mengalami penurunan tajam hingga 20,35 persen dibanding ekspor pada Mei 2019 yang sebesar US$ 380,15 juta.

Namun, neraca perdagangan Provinsi Sumsel masih surplus.

“Meski nilai ekspor mengalami penurunan, untuk total perdagangan luar negeri Sumsel pada Juni 2019 masih surplus US$ 251,78 juta,” ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumsel, Endang Tri Wahyuni, Rabu (17/7/2019)

Berdasarkan data BPS Provinsi Sumsel, untuk ekspor pada Juni 2019 sebagian besar ditujukan ke negara Tiongkok sebesar US$ 102,22 juta (33,76 persen, Amerika Serikat sebesar US$ 29,20 juta (9,64 persen), dan Malaysia sebesar US$ 23,32 juta (7,70 persen).

Dia menjelaskan, lima komoditas utama ekspor dari Sumsel yang terbesar pada Juni 2019 yakni karet senilai US$ 112,87 juta (37,28 persen), bubur kayu/pulp senilai US$ 82,50 juta (27,28 persen), batubara senilai US$ 53,74 juta (17,75 persen), hasil minyak senilai US$ 20,50 juta (6,77 persen), dan pupuk urea senilai US$ 11,78 juta (3,89 persen).

“Ekspor Sumsel periode Januari - Juni 2019 sebesar US$ 1.996,19 juta juga mengalami penurunan 7,01 persen dibanding nilai ekspor periode sama pada 2018 lalu yakni sebesar US$ 2.146,66 juta,” katanya

Sementara nilai impor Sumsel Juni 2019 sebesar US$ 51,00 juta atau naik sebesar 24,91 persen jika dibandingkan pada Mei 2019 yang sebesar US$ 40,83 juta. Sebagian besar impor berasal dari Tiongkok sebesar US$ 21,80 juta (42,75 persen), Malaysia sebesar US$ 11,72 juta (22,98 persen), dan Kanada sebesar US$ 5,49 juta (10,76 persen).

“Sedangkan impor Sumsel periode Januari - Juni 2019 sebesar US$ 253,90 juta, turun hingga 49,10 persen dibanding nilai impor di periode yang sama pada 2018 yang sebesar US$ 498,79 juta,” ujar Endang

Ia mengatakan, jenis barang yang di impor dengan nilai terbesar pada Juni 2019 yakni mesin-mesin atau pesawat mekanik sebesar US$ 18,13 juta (33,55 persen), lalu benda-benda dari besi dan baja sebesar US$ 10,60 juta (20,78 persen), serta pupuk US$ 5,65 juta (11,08 persen).

“Memang impor saat ini lebih terkendali sebab proyek infrastruktur tidak terlalu banyak. Saat Asian Games lalu, dulu impor tercatat paling tinggi karena banyak membutuhkan bahan baja untuk konstruksi bangunan,” tutupnya.(cr26)

Editor: Prawira Maulana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved