Berita Viral

Heboh Fenomena Awan Lenticular Berbentuk Topi di Gunung Rinjani Lombok, Indah Namun Tetap Waspada

TRIBUNSUMSEL.COM - Heboh Fenomena Awan Lenticular Berbentuk Topi di Gunung Rinjani Lombok, Indah Namun Tetap Waspada

Heboh Fenomena Awan Lenticular Berbentuk Topi di Gunung Rinjani Lombok, Indah Namun Tetap Waspada
Instagram/ndorobeii
Viral awan lenticular di gunung Rinjani, Lombok, NTB 

TRIBUNSUMSEL.COM - Heboh Fenomena Awan Lenticular Berbentuk Topi di Gunung Rinjani Lombok, Indah Namun Tetap Waspada

Salah satu akun viral @ndorobeii baru-baru ini mengunggah sebuah foto yang memperlihatkan fenomena alam Gunung Rinjani Lombok yang ditutupi awan sehingga membentuk topi.

Ya, fenomena alam di pegunungan ini dinamakan awan caping atau Lenticular.

Sebetulnya fenomena alam yang sangat indah dan ciamik untuk diabadikan tersebut bukanlah terjadi untuk kali pertama.

Banyak gunung di Indonesia pun pernah mengalaminya.

Dalam postingan tersebut nampak awan Lenticular benar menutupi sisi puncak gunung Rinjani yang berlokasi di Lombok,NTB.

Awan tersebut bahkan persis menyerupai piringan besar dengan posisi tertelungkup diatas puncak gunung Rinjani.

Dalam keterangan pada unggahan tersebut fenomena itu terjadi pada Rabu (17/7/19) pada pukul 08.30 WITA.

Perlu diketahui, berdasarkan informasi dari BMKG yang telah banyak dimuat di berbagai media pemberitaan.

Awan Lenticular/Caping terjadi akibat arus udara yang lembab terdorong ke atas dan melintas melalui puncak gunung atau bukit yang menyebabkan kelembaban di tempat tersebut, sehingga terjadilah embun dan membentuk awan ini.

Awan ini juga terbentuk dari hasil pergerakan angin yang menabrak dinding penghalang besar seperti pegunungan yang akhirnya menimbulkan sebuah pusaran.

Meskipun nampak indah, awan ini sangat dihindari oleh para pilot pesawat karena dapat menyebabkan turbulensi hebat bagi pesawat yang nekat memasuki atau melintasi awan Lenticular.

Menurut beberapa sumber, keberadaan awan ini dapat menjadi penanda suatu sistem gelombang gunung yang terbentuk diatasnya dan terus menjalar.

Serta memiliki komponen-komponen yang dapat memicu kondisi cuaca ekstrem nan berbahaya.

Penulis: Euis Ratna Sari
Editor: Kharisma Tri Saputra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved