Berita Sriwijaya FC
Muddai Madang Siap Lepas Seluruh Saham di PT SOM (Sriwijaya FC)
Direktur Utama PT Sriwijaya Optimis Mandiri selaku pengelola klub profesional Sriwijaya FC menyatakan dirinya siap melepas seluruh saham
Penulis: Weni Wahyuny |
Laporan Wartawan Tribunsumsel.com, Weni Wahyuny
TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG -Direktur Utama PT Sriwijaya Optimis Mandiri selaku pengelola klub profesional Sriwijaya FC menyatakan dirinya siap melepas seluruh saham di perusahaannya jika ada pihak yang berminat.
Hal tersebut disampaikan Muddai melalui rilis dari media officer tim Sriwijaya FC.
Muddai di Palembang, Senin (17/12/2018) mengatakan, ia sangat senang jika ada pihak yang benar-benar ingin mengurus Sriwijaya FC meskipun harus melepas saham mayoritas yang dimiliki.
Seperti diketahui, sebelumnya Wakil Ketua Tim SAR Penyelamat Sriwijaya FC bentukan Gubernur Herman Deru, Hendri Zainuddin meminta Muddai Madang untuk menyerahkan pengelolaan PT SOM ke Gubernur Herman Deru untuk ditunjuk pengelola yang baru
• PT SOM Pengelola Sriwijaya FC Gelar RUPS Januari 2019, Semua Direksi Akan Diganti
• Kontrak Yogi Rahadian di Sriwijaya FC Habis, Sudah Ada Tawaran Klub Lain
"Tidak masalah. Saya bersedia melepas semuanya jika ada yang berminat. Bagi yang berminat silakan berkomunikasi langsung dengan saya," kata Muddai.
Muddai sebelumnya hanya berada dibalik layar pengelolaan Sriwijaya FC karena posisinya sebagai komisaris sejak mulai mendirikan perusahaan ini di tahun 2008.
Pengelolaan SFC sepenuhnya menjadi wewenang Presiden Klub Dodi Reza Alex dan jajaran direktur.
Namun, lantaran terjadi persoalan finansial yang cukup pelik di pertengahan tahun 2018, tepatnya di bulan Juni membuat Muddai terpaksa turun tangan.
Apalagi di kemudian hari Dodi Reza menyatakan dirinya sebenarnya sudah lama melepaskan jabatan sebagai presiden klub saat sudah bertugas sebagai Bupati Musi Banyuasin.
Saat turun langsung mengurus SFC, Muddai hanya ingin menjaga eksistensi Sriwijaya FC berkompetisi di Liga 1.
Muddai menanggulangi persoalan keterlambatan pembayaran gaji hingga memastikan adanya dana untuk keberangkatan tim melakoni laga away.
• Gelandang Serang Sriwijaya FC Esteban Vizcarra Gabung PSM Makassar, CEO dan Pelatih PSM Sebut Ini
• Spesifikasi Vivo Nex Dual Display Edition, Smartphone dengan Dua Layar , Ini Harganya
Walau sudah berupaya maksimal mengorbankan dana, pikiran dan tenaga, Muddai mengaku dirinya sangat terpukul karena tim ini tidak terhindar dari degradasi hingga harus turun ke Liga 2 pada musim mendatang.
Oleh karena itu, Wakil ketua Komite Olimpiade Indonesia yang pernah menjabat sebagai Ketua KONI Sumsel ini sangat merespon positif keinginan dari Tim SAR Penyelamat Sriwijaya FC bentukan Gubernur Herman Deru yang ingin mengelola SFC.
"Silakan, tidak ada masalah. Asal bicara dan bertemu langsung, jangan ngomongnya di media saja. Kita bicarakan baik-baik demi kebaikan bersama," ujar Muddai.
Sebelumnya Tim SAR dan Prestasi Sriwijaya FC yang dibentuk oleh Gubernur Sumsel beberapa waktu lalu menggelar rapat di Hotel Swarna Dwipa Palembang, Minggu (16/12/2018) malam.
Rapat itu menyusun bahan untuk laporan kepada Gubernur Sumsel bahwa tugas Tim SAR selesai sejak kompetisi berakhir.
Wakil Ketua Tim SAR dan Prestasi Sriwijaya FC, Hendri Zainuddin mengakui bahwa Tim SAR gagal membantu PT Sriwijaya Optimis Mandiri (SOM) mempertahankan klub Sriwijaya FC di Liga 1.
Ia mengungkapkan dari 7 pertandingan sisa yang dijalankan SFC pada putaran kedua, SFC hanya mampu menang 3 kali, sementara 4 pertandingan lainnya gagal.
“Dari tim prestasi, kita nggak bisa mampu berbuat apa-apa dari sisi tim, begitulah. Duit banyak juga kita habis, nggak tahu kalau nominal, kalau pempek sepeda banyak,” kata Hendri kepada awak media melalui telepon, Senin (17/12/2018).
Hendri melanjutkan rapat juga membahas kepemilikan PT SOM itu adalah di dalam Yayasan Sepakbola Sriwijaya yang ditandatangani oleh Dodi Reza Alex bersama dengan Ridwan Mukti 2008 lalu.
Di dalam surat diterangkan PT SOM hanya mengelola termasuk menyelesaikan masalah utang Rp7,5 Miliar.
“Tolong ditegaskan, pengelola yang dimandatkan Yayasan Sepakbola Sriwijaya punya Pemprov Sumsel dan punya AD/ART sendiri,” jelasnya.
Oleh sebab itu, sambung Hendri Tim SAR akan mengajukan saran kepada Gubernur Sumsel Herman Deru dalam waktu dekat.
Saran untuk membentuk Perseoran Terbatas (PT) baru jika memang Muddai Madang yang merupakan Dirut PT SOM mau.
“Yang kedua pakai PT SOM tapi dengan konsekuensi kita bayar utang pemegang saham. Katanya Rp20 miliar, diantaranya untuk beli pemain dan lain sebagainya. Tapi audit dulu apakah benar atau tidak,” ungkapnya.
“Artinya Pak Gubernur ada 2 opsi, mengambil keputusan, apakah (PT SOM) diganti, atau tetap PT SOM. Tidak ada masalah (ganti PT) itu kan hanya nama,” timpalnya.
Tim SAR pula, sambung Hendri Muddai Madang bersikap ksatria dan serahkan pengelolahan SFC kepada Gubernur Sumsel.
“Sudahlah, itu punya masyarakat Sumsel. Kasihlah apa yang buat kita maju. Ini kan merugikan masyarakat. Kasihlah dengan Pak Gubernur, kecuali gubernur kasih dia lagi mengelola,” terang Hendri.
Hendri melanjutkan bahwa bukan hak Tim SAR untuk mengambil keputusan karena semua keputusan dari Gubernur Sumsel.
“Kami hanya menyarankan, nanti yang melapor Ketua Tim SAR Pak Syahrial Oesman. Tidak ada wilayah kami karena Pak Gubernur yang ambil keputusan,” ujarnya.
Saat ditanyakan apakah nantinya Tim SAR berminat untuk masuk di direksi PT SOM, Hendri mengatakan bahwa yang pemegang saham terbesar adalah Pemprov Sumsel.
“Kan RUPS itu (yang mengadakan) saham terbesar Pemprov Sumsel, jangan seolah-olah dibalik. SFC bukan milik person (perorangan),”
“Bahwa sudah dibilang secara absah hukum, SFC punya Pemprov. PT SOM kan pengelola, ada suratnya 2008. Belum dicabut hak pengelolanya,” tukasnya.