Cerita Khas Palembang

Makan Tigo Ngaku Duo, Ini Perjuangan Sumardi 27 Tahun Jualan Pempek Sepeda Nafkahi Istri dan 4 Anak

Sumardi (53 tahun) seorang pedagang pempek sepeda yang datang dari Jawa ke Palembang sejak tahun 1991 sudah menggelut profesi ini selama 27 tahun

Penulis: Tiara Anggraini | Editor: Wawan Perdana
TIARA/TRIBUNSUMSEL.COM
Mamang pempek sepeda atau pempek toet sedang melayani pembeli di Lumban Tirta Palembang. 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG-Pempek sepeda, sering juga disebut pempek toet-toet.

Si penjual suka memanggil-manggil calon pembeli dengan memencet toet-toet karet yang ada di stang sepedanya.

Kalian Tertarik dengan artikel lainnya baca Cerita Khas Palembang

Meski zaman yang semakin canggih dan sangat maju, beberapa pedagang pempek sepeda ini masih konsisten dengan sepedanya yang dijadikan alat akomodasi dalam penjualan.

Kawasan Lumban Tirta Palembang, jadi satu tempat mangkal para mamang pempek sepeda yang ramai. Habis berenang sama teman-teman maupun keluarga.

Bukan main enaknya. Keasyikan ngirup cuko nyocol pempek, lupa duit di kantong tinggal dua ribu. Sementara sudah tiga pempek ditelan.

Makan tigo ngaku duo, begitulah frasa bahasa Palembang ini sering dipakai.

Baik untuk lucu-lucuan ataupun senianan (serius).

Dijamu Makan Malam di Belanda, Komika Rigen Pucat, Saat Tahu Identitas Orang yang Berinya Piring

Tahun Baru 2019 di Gunung Dempo Pagaralam, Villa Gunung Gare Full Booking, Eks MTQ Masih Tersedia

Ayo ngaku, kamu pernah melakukannya di Lumban, bila mengetahui bagaiman perjuangan si tukang pempek sepeda ini, kalian akan berpikir dua kali untuk melakukannya.

Kami ajak melihat lebih dalam seperti apa terzoliminya mamang pempek toet di Lumban Tirta. Barangkali ada yang mau minta maaf karena pernah melakukannya.

Sumardi (53 tahun) seorang pedagang pempek sepeda yang datang dari Jawa ke Palembang sejak tahun 1991 sudah menggelut profesi ini selama 27 tahun.

Saat ditanyai mengapa tak beralih profesi atau menggati sepeda dengan motor, ia mengatakan tidak mampu untuk membelinya.

"Bukannya tidak mau, cari kerja sulit apa lagi umur yang sudah tidak muda lagi, untuk beli motor saya tidak sanggup bayarnya," katanya, Jum'at (30/11/2018).

Sumardi menceritakan jika ia tinggal disebuah kontrakan di kawasan Sekip Palembang dengan istri dan keempat anaknya yang masih bersekolah.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved