Cerita Khas Palembang

Makan Pempek Tigo Bayar Duo, Sekarang Tak Seganas Dulu

Tribun menyajikan liputan khas Plembang yang ringan ini pada pembaca. Kali ini soal kalimat, makan tigo bayar dua.

Makan Pempek Tigo Bayar Duo, Sekarang Tak Seganas Dulu
TIARA/TRIBUNSUMSEL.COM
Makan pempek sepeda di Lumban Tirta. 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Tribun menyajikan liputan khas Plembang yang ringan ini pada pembaca. Kali ini soal kalimat, makan tigo bayar duo. Kami mendatangi pempek sepeda di Lumban Trita yang sering jadi keganasan istilah ini.

Makan Tigo Bayar Duo, Kalian Harus Tahu Bagaimana Sedihnya Mamang Pempek Toet Lumban

Berita ringan khas wong Palembang:

- Mari Membedah Kalimat Gelantum Ujinya dan Teka-teka Tatakannya

- Mengenal Sosok H Halim, Orang Kaya di Sumsel Sering Dikunjungi Presiden dan Banyak Tokoh Nasional

Ditulisan sebelumnya kami mengutip cerita dari Sumardi, ternyata pedagang pempek toet lainnya, Agus (37) juga merasakannya.

"Kalau dulu sering, saat ini kurang lah, masih ada tapi tidak banyak sayang biasa nombokin Rp 50 ribu, mau bagaimana lagi," ungkapnya.

Para pedagang pempek sepeda sedang mangkal di Lumban Tirta.
Para pedagang pempek sepeda sedang mangkal di Lumban Tirta. (TIARA/TRIBUNSUMSEL.COM)

"Saya tidak kenal sama pembeli itu apalagi datangnya rame-rame, saya mau nuduh yang mana makan lima tapi bayarnya tiga," tambahnya.

Jika pembelinya pengendara bermotor membali bawa pulang atau makan sendiri tentu sangat ia perhatikan.

"Iya kalau yang bawa pulang kan saya yang bungkuskan, atau makan sendiri kan saya tungguin saya tau dia makan berapa, yang sering itu yang datang bergerombol bayar sendiri-sendiri diantara mereka biasanya ada yang seperti itu," katanya.

Aldo yang tengah asyik mengirup cuko dan menyocol pempek disenggol temannya makan berapa banyak. "Aku duo," katanya. "Aih awak makan tigo kau," kata teman bercanda.

Ia datang bersama tujuh orang temannya. Sore itu habis berenang. Sambil berkelakar mereka pun menyindir satu sama lain. "Payo jujur, juru," kata mereka.

Para pedagang pempek sepeda sedang mangkal di Lumban Tirta.
Para pedagang pempek sepeda sedang mangkal di Lumban Tirta. (TIARA/TRIBUNSUMSEL.COM)

Pedagang pempek sepeda masih bertahan sampai saat ini. Pelan-pelan mereka mengais rezeki. Ada yang berdagang bahkan sejak tahu 1990 lalu.

Banyak pedagang yang masih bertahan hingga saat ini dan konsisten dengan sepedanya datang dari Jawa Ke Palembang sejak lama.

Tak jarang pula pedangan pempek sepeda ini menerima pembeli yang tak jujur dan nakal dan berimbas kepada penghasilannya yang harus ia setor kepada agen.

Penulis: Tiara Anggraini
Editor: Prawira Maulana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved