Soroti Kinerja Timsel KPU Daerah, Bagindo Togar: 10 Besar Rawan Disusupi

Pemerhati politik dari Forum Demokrasi Sriwijaya ( ForDeS) Bagindo Togar, menyoroti kerja Tim Seleksi (Timsel)

Soroti Kinerja Timsel KPU Daerah, Bagindo Togar: 10 Besar Rawan Disusupi
TRIBUNSUMSEL.COM/ARIEF BR
Ilustrasi ujian seleksi anggota KPU. 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Pemerhati politik dari Forum Demokrasi Sriwijaya ( ForDeS) Bagindo Togar, menyoroti kerja Tim Seleksi (Timsel) calon komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten/kota se Sumsel, yang saat ini telah memasuki tahapan kesehatan.

Rencananya, Rabu (28/11) peserta akan melakukan tes kesehatan di RSUP Mohammad Hoesin Palembang, dilanjutkan tes wawancara oleh Timsel pada 3-7 Desember mendatang. Kemudian Timsel menentukan 10 nama di masing- masing daerah untuk diserahkan kepada KPU Sumsel, dan diteruskan ke KPU RI untuk selanjutnya dilakukan fit and propertes dan dipilih serta ditetapkan sebagai komisioner KPU.

Menurut Bagindo, tergolong sengit persaingan diantara para calon atau pelamar di badan adhoc kepemiluan ini. Tak heran beragam upaya diusahakan untuk lolos sebagai komisioner daerah dengan masa jabatan 5 tahun kedepan.

Maka, Timsel dalam proses ini (10 besar), tentu harus menjaga integritas dan profesionalitas dalam penentuan nama tersebut.

"Bila dicermati, untuk muatan tahapan test, mulai seleksi Computer Assisted Test (CAT), Psikotest serta Kesehatan sesungguhnya harus diakui cukup objektif atau valid penilaiannya. Sebab teknis pengujiannya diserahkan pada pihak ketiga, dimana Timsel hanya menerima akumulasi dari ragam penilaian tahapan test tersebut. Tetapi Ketika saat memasuki final test dari yang berjumlah 25 orang menjadi 10 orang dan 10 menjadi 5 orang, sepertinya faktor maupun unsur subjektifitas para anggota Timsel menjadi penentu utama," kata Bagindp, Rabu (27/11).

Tak heran, dijelaskan Bagindo bila beragam cara, pendekatan serta godaan akan menerpa anggota Timsel. Baik itu berasal dari elite pemerintahan daerah, Ormas, Parpol maupun jenis pola nepotisme lainnya.

"Bila para Timsel per masing- masing wilayah tersebut, tak mampu menghindar dari semua itu, maka ekspetasi publik untuk lahirnya para komisioner yang lebih berintegritas, daripada era-era sebelumnya kemungkinan besar sulit didapat," capnya.

Begitu pula, ditambahkan Bagindo, pelaksanaan sistem demokrasi yang diharapkan publik berkualitas, akan mengalami hambatan dalam proses penyempurnaan regulasi maupun implementasinya.

Ia menekankan, Timsel kalau perlu harus mempertaruhkan diri, untuk melahirkan calon komisioner yang memiliki integritas, profesional, antikorupsi dan tidak memiliki catatan buruk sebelumnya. Sebab menurutnya, proses seleksi yang panjang dan ketat bukan jaminan proses ini bisa clear dan fair. Ia menilai, perlu disadari bahwa proses seleksi menjadi wilayah yang rawan kepentingan.

"Untuk itu disarankan secara khusus kepada para Timsel atau panitia seleksi, dianjurkan berkordinasi secara proporsional dan profesional dengan KPU Provinsi sebagai representasi KPU pusat, agar diperoleh supplemen energi extra, ketika berhadapan dengan bermacam serangan, dari kelompok luar yang berusaha mempengaruhi, K
Keputusan penting dalam menetapkan pribadi pribadi terbaik sebagai komisioner KPU," tuturnya.

Ia melanjutkan, jika proses seleksi melahirkan komisioner tidak berintegritas, dan bahkan bermental korupsi, pasti juga akan melahirkan pemimpin yang bermental korup.

"Kita berharap Timsel benar-benar menyeleksi, dan menyerahkan orang-orang terbaik kepada KPU Pusat bukan orang-orang bermasalah, dan titipan segelintir elit. Sehingga benar-benar proses awal kita sudah memulai memperbaiki tatanan demokrasi kita, karena negara yang kuat, berhimpun rakyat yang bermartabat," tandasnya.

Penulis: Arief Basuki Rohekan
Editor: Prawira Maulana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved