news
Masih Punya Hutang Puasa Wajib, Bolehkah Puasa Sunah Arafah?. Berikut Penjelasannya
Imam Syafi'i berpendapat, puasa Arafah adalah hadiah dari Allah bagi umat Muslim yang tidak mengerjakan ibadah Haji.
TRIBUNSUMSEL.COM- Puasa Arafah, puasa yang dianjurkan oleh Rasulullah Muhammad SAW, di saat sebagian umat Islam mengerjakan ibadah haji, akan jatuh pada Selasa, 21 Agustus 2018.
Dalam kalender Hijriah, pada Selasa besok adalah hari ke 9 Dzulhijjah.
Dilansir TribunSolo.com dari Tribun Jabar, puasa Arafah ini sangat dianjurkan bagi umat Islam yang tidak sedang mengerjakan ibadah haji.
Adapun orang yang berhaji tidak disunnahkan untuk melaksanakan puasa Arafah.
Imam Syafi'i berpendapat, puasa Arafah adalah hadiah dari Allah bagi umat Muslim yang tidak mengerjakan ibadah Haji.
Keutamaan menjalankan ibadah puasa Arafah adalah dihapusnya dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.
Melihat keutamaan tersebut, setiap muslim tidak seharusnya meninggalkan amalan tersebut.
Namun, bagaimana jika kita masih punya hutang puasa wajib di bulan Ramadan?
Apakah kita boleh mengerjakan puasa sunah Arafah?
Atau harus mengganti hutang puasa wajib terlebih dahulu?
Dilansir TribunSolo.com dari Banjarmasin post, dalam artikel yang diterbitkan di situs resmi Nahdlatul Ulama (NU) yang diterbitkan pada Selasa (2/12/2008) hal itu boleh dilakukan.
Bagi kaum Muslimin yang mempunyai tanggungan puasa Ramadan juga disarankan untuk mengerjakannya pada hari Arafah ini, atau hari-hari lain yang disunnahkan untuk berpuasa.
Maka ia akan mendapatkan dua pahala sekaligus, yakni pahala puasa wajib (qadha puasa Ramadhan) dan pahala puasa sunnah.
Demikian ini seperti pernah dibahas dalam Muktamar NU X di Surakarta tahun 1935, dengan mengutip fatwa dari kitab Fatawa al-Kubra pada bab tentang puasa:
يُعْلَمُ أَنَّ اْلأَفْضَلَ لِمُرِيْدِ التََطَوُّعِ أَنْ يَنْوِيَ اْلوَاجِبَ إِنْ كَانَ عَلَيْهِ وَإِلَّا فَالتَّطَوُّعِ لِيَحْصُلَ لَهُ مَا عَلَيْهِ
Diketahui bahwa bagi orang yang ingin berniat puasa sunnah, lebih baik ia juga berniat melakukan puasa wajib jika memang ia mempunyai tanggungan puasa, tapi jika ia tidak mempunyai tanggungan (atau jika ia ragu-ragu apakah punya tanggungan atau tidak) ia cukup berniat puasa sunnah saja, maka ia akan memperoleh apa yang diniatkannya. (*)