Fusicoccum Penyakit Karet di Sumsel yang Pengaruhi Produksi Sampai 50 persen

Penyakit ini telah menebar sejak tahun 2017 lalu. Hal ini menjadi ancaman besar terhadap produksi karet nasional

Fusicoccum Penyakit Karet di Sumsel yang Pengaruhi Produksi Sampai 50 persen
TRIBUNSUMSEL.COM/DEFRI IRAWAN
Ilustrasi

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG -Kondisi karet di Indonesia mengalami persoalan yang cukup pelik diakibatkan penyakit fusicoccum atau gugur daun. Bahkan produksi karet turun sampai 45 persen hasil penelitian dari Balai Penelitian Karet Sembawa.

Penyakit ini telah menebar sejak tahun 2017 lalu. Hal ini menjadi ancaman besar terhadap produksi karet nasional.

Baca: Selvi Kitty Ngamuk di Media Sosial Gegera Hutang, Kapok Minjemin Duit ke Orang Usai Disebut Begini

Baca: Jawaban KPU Sumsel Terhadap Gugatan Dodi-Giri

“Dampaknya Indonesia kehilangan produksi sebesar 25 persen, Sumsel sendiri produksi turun sangat besar hingga di Juli ini, sebagai bulan puncak produksi,” jelas Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian, Kemenko Perekonomian, Musdalifah Machmud, Selasa (31/7/2018).

Ia menambahkan, langkah untuk membuat ketahanan tanaman karet melalui pupuk dengan kondisi harga karet yang rendah bukan menjadi solusi yang tepat.

Sehingga diperlukan penelitian oleh sejumlah peneliti yang tergabung dalam Internatioanl Rubber Research Development Board (IRRDB).

"Seluruh peneliti dunia berkumpul untuk menggalang solusi dan mengatasi penyakit ini. Masing - masing peneliti karet dari 15 negara, dari Afrika, India, China, Vietnam, Sri Langka, negara-negara tetangga didatangkan untuk mengatasi permasalahan," ujarnya.

Workshop ini kerjasama antara Pusat Penelitian Karet (PPK) dengan tentang gugur daun penyakit di perkebunan karet karena hal ini bisa mengancam dan tersebar di seluruh Asia region, sangat berbahaya jadi mesti kerjasama untuk mengatasinya dengan adanya pertemuan para peneliti.

Dibahas tentang penyakit pada tanaman karet khususnya penyakit fusicoccum yang saat ini sedang berjangkit atau outbreak di wilayah Indonesia terutama Sumsel. Padahal sebelumnya bukan merupakan penyakit penting pada karet.

Penyakit ini mengakibatkan gugur daun dan kerapatan tajuk berkurang 50 persen.

Ada penyakit kehilangan produksi 45 persen (Data Balit Sembawa). Penyakit ini berdasarkan observasi Balit Sembawa menyerang karet klon rekomendasi.

"Karet jenis RRIC 100 juga rentan fusicoccum, klaret yang rendah akibatnya penurunan produksi," jelasnya.

Sementara Direktur Pusat Peneliti Karet, DR Gede Wibawa mengungkapkan, diketahui, harga karet dunia saat ini berada disekitar 1,3 USD jauh dari harga 1,7 USD, hal ini tidak mungkin menciptakan pupuk untuk meningkatkan ketahanan tanaman karet terhadap penyakit ini.

"Kita tidak bisa suruh petani membeli  pupuk, dengan posisi harga karet yang rendah, berat bagi petani. Kalu diatas 1,75 USD baru petani senang, untuk itu kita terpaksa menggalang kolaborasi ini," pungkasnya.

Editor: Siemen Martin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved