Buat Rokok Boleh Request Lagu 'Lagi Syantik'

Tangan 4.500 wanita bergerak cepat sesuai dengan tugasnya. Ada yang menggiling atau melinting, ada yang menggunting/batil, membungkus,

Penulis: Weni Wahyuny | Editor: Kharisma Tri Saputra
TRIBUNSUMSEL.COM/WENI WAHYUNY
Pekerja di tempat produksi Sigaret Kretek Tangan (SKT) PT Djarum Indonesia di Desa Karangbener, Kudus Jawa Tengah, Rabu (11/7) lalu. 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Tangan 4.500 wanita bergerak cepat sesuai dengan tugasnya. Ada yang menggiling atau melinting, ada yang menggunting/batil, membungkus, dan lain sebagainya sebagai proses pembuatan rokok 100 persen dengan tangan di salah satu tempat produksi Sigaret Kretek Tangan (SKT) PT Djarum Indonesia di Desa Karangbener, Kudus Jawa Tengah, Rabu (11/7) lalu.

Melihat suasana seperti itu suatu ketakjuban bagi orang yang mengunjungi pabrik di gedung 2 tersebut. Termasuk ratusan perwakilan dari media yang ada di Indonesia pada kegiatan Cultural Visit Media Gathering yang digelar 8-12 Juli lalu.

Mereka nampak asik dengan pekerjaannya, ada yang tegang saat dilihati pengunjung, ada yang ngobrol, ada yang sambil bernyanyi bahkan tak sedikit yang sangat fokus dengan kegiatan yang dilakukan sesuai dengan bidangnya.

Unit Head Produksi Gedung 2 SKt Karangbener, H Jamhari menjelaskan 4.500 karyawan tersebut, lanjut Jamhari memilik hak dan fasilitas yang sama dengan para karyawan lain di atasnya. Termasuk hiburan pula para karyawan yang didominasi para ibu ini juga bisa dirasakan.

“Jadi sengaja kita pasang speaker dan memutar lagu agar mereka bisa sambil bernyanyi. Request lagu juga boleh. Misalnya ada karyawan pengen dengarkan lagu ‘lagi syantik’, kita kasih,” kata Jamhari.

“Termasuk juga ngobrol, kami Nggak pernah larang mereka ngobrol, terserah mau ngapain yang penting target tercapai,” jelasnya.

Jamhari menjelaskan para karyawan, khususnya yang bertugas pada penggilingan dan batil yang dikerjakan oleh satu tim yang terdiri dari 2 orang ditargetkan dapat membuat 4.000 batang per 7 jam kerja. Disela bekerja, karyawan akan melakukan peregangan dua kali selama bekerja selama beberapa menit dengan mendatangkan instruktur profesional.

“Jadi fungsinya biar tidak kaku. Sudah ada instruktur di depan, jadi mereka menggerakkan badannya secara serentak,” jelasnya.

Begitupula dengan asuransi kesehatan, semua karyawan difasilitasi BPJS kesehatan. Tak hanya karyawan bersangkutan, tapi juga suami serta anak yang ditanggung oleh perusahaan.

“Jam istirahat juga bebas, makan, minum, salat, bebas yang penting tercapai,” ucapnya.

Jamhari mengatakan bahwa di SKT Karangbener adalah tempat dimana memproduksi rokok dengan merek Djarum Coklat, 76 dan Istimewa dengan menggunakan tangan.

Puluhan wartawan pula ikut merasakan membuat rokok dengan tangan. Meski tak semahir para ibu, para wartawan nampak berusaha. Dari 3 menit waktu yang diberikan, wartawan hanya menghasilkan 1-3 batang rokok.

Tak hanya di SKT Karangbener, peserta Culvis Media Gathering pula berkembangan mengunjungi Sigaret Kretek Mesin (SKM), pabrik rokok PT Djarum lainnya yang cara pembuatannya dengan menggunakan mesin. Semua proses pembuatan dilakukan dengan mesin otomatis dan tak sembarang orang bisa masuk didalamnya.

100 lebih dari perwakilan media hadir di Cultural Visit Meda Gathering 2018 yang digelar oleh Djarum Foundation. Selain berkunjung ke Kudus sebagai kota Kretek, wartawan pula diajak untuk merasakan indahnya tanah Jawa. Dimulai dari nonton bersama blibli Open Turnamen 2018 di Istora Senayan Jakarta, peserta pula langsung terbang ke Yogyakarta, Magelang, Kudus dan Semarang. (wet)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved