Berita Prabumulih

Buka Hanya Seminggu, Pedagang Pasar Kuliner Prabumulih Kecewa

Sebanyak 120 pedagang di pasar kuliner ramadan 1439 H atau pedagang pasar bedug kota Prabumulih, harus merasakan kekecewaan alias gigit jari.

Penulis: Edison | Editor: Kharisma Tri Saputra
TRIBUNSUMSEL.COM/EDISON
Lokasi pasar kuliner Ramadan atau pasar beduk di Jalan Jenderal Sudirman tepatnya di depan kantor Walikota Prabumulih sebelah DPRD tampak berserakan usai pembongkaran tenda, Kamis (24/5/2018). 

Laporan wartawan Tribunsumsel.com, Edison Bastari

TRIBUNSUMSEL.COM, PRABUMULIH - Sebanyak 120 pedagang di pasar kuliner ramadan 1439 H atau pedagang pasar bedug kota Prabumulih, harus merasakan kekecewaan alias gigit jari.

Pasalnya, Pasar kuliner yang baru dibuka pada Kamis (17/5/2018) itu baru seminggu sudah ditutup oleh Pemerintah kota Prabumulih melalui Dinas Perdagangan.

Padahal jika tahun-tahun sebelumnya pasar bedug digelar pemerintah di halaman Masjid Agung Nur Arafag hingga menjelang lebaran namun justru di tempat baru tersebut hanya berlangsung satu minggu.

Pantauan Tribunsumsel.com di lokasi pasar bedug di halaman kantor Walikota Prabumulih Jalan Jendral Sudirman kota Prabumulih, tenda yang dipasang di pasar bedug telah dibongkar.

Satu persatu pedagang mulai memindahkan meja sebagai tempat berjualan, selain itu tampak beberapa meja dan lapak jualan berserakan ditinggal para pedagang.

Akibat pembongkaran tersebut para pedagang yang datang membawa dagangan untuk berjualan terpaksa harus menggelar dagangan di atas trotoar di pinggir jalan jenderal sudirman.

Kondisi tersebut membuat para pedagang mengeluh lantaran tidak bisa menambah penghasilan di pasar bedug dan harus terpaksa berjualan di pinggir jalan.

Koordinator pedagang pasar bedug, Nunung mengaku selama puluhan tahun berjualan kuliner ramadan di Prabumulih baru kali ini pelaksanaan pasar bedug hanya digelar pemerintah selama seminggu.

"Sudah lama kami berjualan baru kali ini kami hanya menggelar pasar bedug seminggu, kami tidak minta banyak, kami hanya minta pemerintah memfasilitasi kami berjualan dengan tenda dan meja saja seperti tahun-tahun sebelumnya tapi malah ditutup, kami usulkan untuk perpanjang tapi malah tidak disetujui," ungkapnya kepada wartawan.

Nunung mengatakan, tidak seperti tahun sebelumnya dimana pedagang berjualan hingga jelang ramadan dan mendapat uang transportasi dari pemerintah, tahun ini malah perhatian kepada para pedagang menjadi tidak ada.

"Kami pedagang ini rela berhutang untuk modal dengan harapan bisa mendapat untung dan bisa merayakan lebaran, kalau begini jangankan untung untuk mengembalikan modal saja tidak bisa. Janganlah buka pasar bedug hanya untuk syarat saja, kasian kami pedagang ini," katanya seraya mengatakan pihaknya kecewa dengan Penjabat Walikota, H Richard Cahyadi Ap Msi dan Kepala Dinas Perdagangan yang baru yakni Junaidi karena tidak peduli rakyat kecil.

Ungkapan sama disampaikan Ani yang menuturkan, pihaknya kecewa lantaran pasar bedug yang terletak di lokasi strategis dan baru akan ramai dikunjungi pembeli tetapi sudah harus ditutup.

"Kami ini rakyat kecil, bukan pulok nak kayo dengan jualan ini tapi paling idak kami dapat tambahan penghasilan untuk merayakan Idul Fitri kagek."

"Harusnyo pemerintah itu perhatikan kami rakyat ini, dinas itu harusnya mencari solusi mengatasi ini, ngapo kepala dinas lama betahun tahun biso giliran kepala dinas baru dak biso, perlu diganti," katanya.

Tidak hanya itu, para pedagang juga mengeluhkan apa yang dialami itu hendaknya menjadi perhatian para anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Prabumulih yang merupakan wakil untuk menyuarakan suara rakyat.

"Dewan harus perhatikan juga nasib kami ini, masa rakyat kalian dicakinikan kalian diam bae," ungkapnya kesal.

Terpisah, Kepala Dinas Perdagangan Pemkot Prabumulih, Junaidi SIP saat dikonfirmasi wartawan terkait penutupan pasar bedug mengatakan, pihaknya sudah dari awal membuka pasar bedug telah menyampaikan kepada pedagang jika pengoperasian pasar bedug hanya berlaku selama satu minggu.

Pengoperasian pasar bedug hanya selama seminggu itu disebabkan keterbatasan anggaran di dinas Perdagangan.

"Kami tidak bisa memperpanjang biaya sewa tenda karena dana untuk sewa terbatas."

"Kalau untuk lokasi tidak dilarang, kami tidak bisa penuhi fasilitas tenda dan meja. Ini sudah menjadi kebijakan pimpinan," ujarnya singkat. (eds)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved