Berita Lubuklinggau

Ini Cara Bedakan Cincau Pakai Pengawet dengan yang Tidak Pakai Pengawet

Meski di hari biasa cukup mudah dijumpai, nyatanya cincau tetap menjadi salah satu makanan favorit berbuka di bulan Ramadhan.

Penulis: Eko Hepronis | Editor: Melisa Wulandari
tribunsumsel.com/Eko Hepronis
Pegawai Eni Sudarti saat memasak cincau dibelakang rumahnya Kelurahan Wirakarya, Kecamatan Lubuinggau Timur II Kota Lubuklinggau. 

Laporan wartawan Tribunsumsel.Com, Eko Hepronis.

TRIBUNSUMSEL. COM, LUBUKLINGGAU -- Meski di hari biasa cukup mudah dijumpai, nyatanya cincau tetap menjadi salah satu makanan favorit berbuka di bulan Ramadhan.

Hampir di sepanjang jalan, cincau dapat ditemui dengan mudah, baik belum diolah atau dalam bentuk makanan jadi.

Menjamurnya cincau selama bulan puasa, menjadi ladang rezeki bagi para produsennya.

Baca: Lagi Puasa, Mimpi Basah Siang Hari, Apakah Batal atau Tidak? Ini Dia Penjelasannya

Eni Sudarti (52) misalnya warga Kelurahan Wirakarya, Kecamatan Lubuinggau Timur II Kota Lubuklinggau ini mengaku, permintaan cincau meningkat berpuluh kali lipat di bulan ini.

Jika biasanya ia hanya memproduksi sekitar 100 loyang, di bulan Ramadhan bisa sampai 2.000 loyang.

"Di awal puasa ini bisa mencetak 2.000 loyang kecil dan loyang besar tergantung permintaan," ungkapnya pada Tribunsumsel.com, Jumat (18/5/2018).

Baca: 2 Pencuri di SPBU Desa Pegayut Ogan Ilir Ini Diciduk Polisi Setelah Terekam CCTV

Ia bertutur, profesi sebagai produsen cincau ini merupakan warisan ayahnya. Sejak tahun 1970, keluarganya telah konsisten membuat cincau.

Untuk jumlah produksi selalu disesuaikan dengan pesanan dari pedagang, baik di Pasar Inpres maupun Pasar Satelit atau pun pedagang luar daerah.

"Banyak juga yang dibawa ke dusun," ucapnya.

Baca: Bikin Kaget, Begini Penampilan Nagita saat Pakai Hijab, sampai Sang Suami Ucapkan Kata-kata ini

Eni memastikan cincau buatan keluarganya ini bebas bahan pengawet. Hal tersebut dapat dibuktikan dari tekstur dan ketahanan produknya.

Ia menjelaskan, cincau yang dibuatnya hanya tahan dalam waktu tiga hari. Teksturnya pun tidak terlalu kenyal.

Setelah tiga hari, akan ada perubahan tekstur menjadi lebih lembek dan berubah warna menjadi kuning.

Baca: Penampilan Terbarunya Bikin Takjub, Penyanyi Ini Ungkap Perjalanan Hijrah Berawal Dari Palestina

"Sedangkan kalau cincau berpengawet yang berbahaya bisa awet lebih dari seminggu dan teksturnya itu luar biasa kenyal," tuturnya.

Dalam proses pembuatannya, cincau membutuhkan waktu sekitar empat jam.

Bahan baku pembuatan cincau pun, diakuinya, tidak pernah mengalami kendala semua didapat dari Jawa.

Soal harga, Eni mengaku ada perbedaan dengan harga di hari biasa.

"Hari biasa per loyang kita jual Rp 10 ribu. Kalau di Ramadhan ini, loyang kecil Rp 15 ribu dan besar Rp 25 ribu. Kan rezeki tahunan," ujarnya.

Baca: Punya Harta Berlimpah, Tak Disangka Ini Menu Sahur Keluarga Anang dan Ashanty, Salfok Lihat Aurel

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved