Mutu Pembelajaran di Ruang-ruang Kelas Kita

Pembelajaran yang bermutu ditentukan oleh faktor kualitas rencana pembelajaran, dialog dan kolaborasi.

Editor: Lisma Noviani
TRIBUNSUMSEL.COM
Salah satu aktivitas belajar mengajar di kelas (ilustrasi) 

Guru mengupayakan terjadinya proses dialog agar anak terlatih untuk mengkonstruksi pengetahuan secara mandiri. Dialog bukan hanya bermakna setiap anak berkomunikasi dengan anak lainnya, tetapi bisa juga seorang anak berpikir secara mendalam dan melakukan pengecekan ulang secara teliti terhadap langkah-langkah penyelesaian suatu tantangan atau masalah yang diberikan gurunya.

Dialog yang baik (self-dialogue) ditandai dengan hasil pemikiran anak yang asli, sahih, dan otentik. Jika guru konsisten membuka ruang kemungkinan terjadinya dialog dalam proses pembelajaran, keterampilan berpikir kritis dan kreatif anak dapat didayagunakan secara optimal.

Ketiga, guru perlu lebih peka memperhatikan tingkat kognisi dan emosi anak yang beragam. Kekeliruan terbesar yang dilakukan guru adalah kurang memperhatikan anak yang lambat belajarnya. Jika guru memberikan bimbingan secara individu pada beberapa anak yang lambat kemampuan belajarnya, hal ini tak realistis dilakukan dalam situasi pembelajaran dengan waktu yang terbatas. Langkah paling mungkin dilakukan adalah menerapkan pembelajaran kolaboratif.

Pembelajaran Kolaboratif

Pembelajaran kolaboratif mendorong anak yang terlambat belajarnya tidak merasa rendah diri. Sebaliknya, anak dengan kecepatan dan pemahaman belajar yang baik dididik untuk tak tinggi hati dan bersedia membantu anak lainnya yang mengalami kesulitan belajar. Anak yang lambat belajar memiliki hak untuk dibantu oleh anak dengan pemahaman belajarnya yang baik. Sebaliknya, anak yang sudah memahami konten materi wajib membantu temannya yang masih mengalami kesulitan memahami apa yang sedang diajarkan.

Pembelajaran kolaboratif memberikan kesempatan terjadinya situasi pengalaman berbagi pengetahuan di antara sesama pembelajar. Dengan cara ini, anak dilatih untuk saling berempati dengan kesulitan belajar yang dihadapi teman lainnya.

Ikatan emosional dan hubungan sosial akan terjalin dengan baik. Kehidupan batin anak menjadi tenang dan tenteram. Yang pada akhirnya, hal ini akan berdampak pada pengetahuan akademik dan intelektual anak.

Pada titik ini, kita bisa menelaah lebih jauh, mengapa anak-anak kita sering merasa lelah dan bosan untuk belajar? Mengapa tak ada perubahan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang relatif permanen meski sudah menghabiskan banyak waktu belajar di bangku sekolah? Tak boleh ada kompromi lagi. Perbaiki mutu pembelajaran di ruang-ruang kelas kita sekarang juga. (*)

Praktisi Pendidikan, Asep Sapa'at Kunjungi Graha Tribun Bawa Ilmu ini
Praktisi Pendidikan, Asep Sapa'at Kunjungi Graha Tribun Bawa Ilmu ini (tribunsumsel.com/Sri Hidayatun)

Penulis:  Asep Sapa’at

* Pemerhati Pendidikan

* Litbang di Klinik Pendidikan MIPA

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved