Menyisir 295,14 KM Pesisir Timur Ogan Komering Ilir

Kabupaten Ogan Komering Ilir memiliki garis pantai terpanjang di wilayah Provinsi Sumatera Selatan

ist
Bupati Kabupaten Ogan Komering Ilir, Iskandar SE 

Empat kecamatan yang memiliki wilayah di pesisir timur Kabupaten OKI antara lain Kecamatan Sungai Menang, Cengal, Tulung Selapan dan Air Sugihan. Penduduknya  pun multi etnik seperti Bugis, Melayu, Jawa dan Sunda. Mereka menempati desa-desa yang disebut dengan kuala di sepanjang garis pantai timur. Mata pencaharian utama mereka dominan dari hasil laut baik petambak maupun nelayan ikan tangkap ditambah dari hasil rumah rumah walet yang berdiri di tiap desa.

Secara ekonomi pendapatan sebagian besar masyarakat di wilayah ini cukup tinggi. Dalam satu kali panen tambak penghasilan mereka bisa puluhan juta rupiah sebagaimana di ceritakan Badrio Kepala Desa Sungai Sibur namun menurutnya pendapat mereka ini masih tidak seimbang dengan pengeluaran atas kebutuhan rumah tangga seperti minyak sayur, gula, dan bahan bakar minyak (BBM).

"Semua itu akibat akses transportasi yang lemah. Jika transportasi lancar, semua itu akan menjadi lebih baik. Pendapatan dan pengeluaran akan berimbang. Mahalnya kebutuhan yang tidak mereka hasilkan lantaran besarnya biaya transportasi. Begitu juga sebaliknya, produksi mereka dibeli rendah karena para pembeli mempertimbangkan ongkos transportasi,” kata Badrio.

Perjalanan menyusuri pesisir timur OKI diawali dari Desa Bumi Pratama Mandira Kecamatan Sungai Menang. Bumi Pratama Mandira terkenal dengan budidaya udang windu. Di lokasi tersebut hadir PT Wahyuni Mandira, perusahaan tambak udang terbesar di Asia Tenggara kala itu.

Namun memang pasca pemutusan PHK karyawan menunjukan bahwa perusahaan hampir bangkrut. Sehingga ditakutkan berdampak pada pembudidaya udang plasma di lokasi tersebut. Seperti masalah listrik sebagai alat pendukung budidaya untuk menghidupkan kincir air. "Sebelumnya sudah dikasih tahu oleh pihak perusahaan. Jadi untuk sementara kami mengurangi jumlah bibit," ucap Wahab (48) salah satu pembudidaya plasma tambak udang, ditemui di sela-sela kunjungan Bupati OKI, H. Iskandar SE.

Biasanya menebar benih dengan adanya kincir bisa capai 200 ribu. Tapi kalau sekarang hanya sanggup 15 ribu-50 ribu karena tidak pakai kincir Lanjut Wahab yang sudah 20 tahun membudidaya udang. Tidak beroperasinya perusahaan menjadi ketakutan petani tambak tak bisa membudidaya lagi.

“setelah dipikir, kami malah bisa lebih mandiri. Jadi kami bangkit dan kami mulai mengatur sendiri budidaya udang disini," tambahnya.

Bahkan menurut Wahab untuk penjualan udang, saat bisa diatur. Kalau sebelumnya untuk harga diatur dan penjualannya. Namun saat ini sudah seminggu sekali. "Kami bisa jual ketika harga udang tinggi. Kalau udang murah kami sekarang bisa menunggu untuk menjual," ucapnya.

Lanjut dia, untuk benih, pakan dan penjualan masih dengan pihak perusahaan. Bedanya sekarang petani bisa berinovasi sendiri dan mengatur tambak sendiri. "Kalau untuk tambak memang milik perusahaan sedangkan untuk pengelolaan diserahkan kepada kami sendiri," tambahnya.

Bagi para petambak budidaya tambak udang, bukan lagi jadi masalah. Namun yang jadi masalah ialah listrik dan pelayanan kesehatan serta air bersih. Karena ketika perusahaan kolaps, tiga masalah tersebut tak bisa diatasi lagi. "Dulu listrik siang malam hidup. Sekarang hanya malam. Air bersih ngalir sekarang air tergantung air hujan. Dulu ada balai pengobatan dari perusahaan tapi sekarang tidak ada lagi. P0skesdes sudah ada tapi saat ini belum dioperasi," tambahnya.

Halaman
1234
Editor: Melisa Wulandari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved