Bukan Syirik, Tradisi Menyucikan Benda Pusaka Setiap Satu Syuro Diberi Makna Seperti Ini

Sejak kemarin sesepuh grumbul Tangeran, asli Banyu Mas ini sudah mempersiapkan pusaka peninggalan leluhurnya untuk disucikan.

Bukan Syirik, Tradisi Menyucikan Benda Pusaka Setiap Satu Syuro Diberi Makna Seperti Ini
tribunsumsel.com/Eko Hepronis
Sawal (50), warga Dusun 4 blok Tanggeran, Desa L Sidoharjo, Kecamatan Tugumulyo, Kabupaten Musi Rawas saat mencuci sejumlah pusaka simpanannya, Kamis (21/9). 

Laporan wartawan Tribunsumsel.Com, Eko Hepronis

TRIBUNSUMSEL.COM, MUSIRAWAS - Bulan Suro dalam kalender Islam disebut bulan Muharram atau bulan  Hijriah, di bulan ini juga selalu  dihubung-hubungkan dengan hal mistis.

Di pulau Jawa ritual bulan Muharram ini diperingati dengan berbagai macam-macam cara.

‎Bahkan kerap dijadikan para kolektor benda-benda pusaka untuk menyucikan diri dan merawat pusaka mereka.

Namun bukan hanya di pulau Jawa saja tradisi itu masih terawat. 

Di Kabupaten Musi Rawas (Mura) pun tradisi menyucikan ‎sejumlah pusaka masih dilestarikan.

Seperti yang dilakukan Sawal (50), warga Dusun 4 blok Tanggeran, Desa L Sidoharjo, Kecamatan Tugumulyo. ‎

Sejak kemarin sesepuh grumbul Tangeran, asli Banyu Mas ini sudah mempersiapkan pusaka peninggalan leluhurnya untuk disucikan.

‎"Nyuci pusaka ini adalah tradisi setiap tahun, turun temurun sejak dahulu kala, terutama setiap tanggal 1 Muharram dan tanggal 12 rabiul awal‎," ungkapnya saat dibincangi Tribunsumsel.Com, Kamis (21/9).

Proses nyuci pusaka dilakukan oleh semua masyarakat yang menyimpan benda-benda pusaka ditempat tersebut.

Mereka melakukannya sejak pagi hari awal bulan Muha‎rram dengan cara bersama-sama.

Halaman
123
Penulis: Eko Hepronis
Editor: Hartati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved