Transportir Truk Kayu dan Batubara Diminta Berhenti Melintas Siang

Masih melitasnya truk kayu dan batubara di siang hari, terus dikeluhkan masyarakat dan menjadi perhatian serius para pejabat dan anggota Dewan Perwaki

Transportir Truk Kayu dan Batubara Diminta Berhenti Melintas Siang
TRIBUNSUMSEL.COM/EDISON
Truk kayu dan batubara yang masih melintas dan sebabkan kemacetan di jalan jendral sudirman Kecamatan Cambai Prabumulih. (eds) 

Laporan Wartawan Tribunsumsel.com, Edison Bastari

TRIBUNSUMSEL.COM, PRABUMULIH - Masih melitasnya truk kayu dan batubara di siang hari, terus dikeluhkan masyarakat dan menjadi perhatian serius para pejabat dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Prabumulih.

Satu diantaranya dari Asisten II Setda Pemerintah kota Prabumulih, HM Yusuf Arni. Yusuf meminta, para pengelola angkutan atau transfortir truk kayu dan batubara menghentikan armadanya serta jangan melintas seenaknya disiang hari, tetapi harus mematuhi aturan Gubernur Sumsel agar melintas antara pukul 18.00 hingga 06.00.

Tidak hanya itu, Yusuf juga meminta para transfortir truk batubara dan kayu tidak beroperasi di siang hari agar menghormati pengguna jalan lain khususnya masyarakat yang menjalankan ibadah puasa.

"Kami lihat memang truk kayu dan truk batubara ini masih bebas melintas di siang hari, padahal sudah sejak lama ada aturan melintas dikeluarkan Gubernur Sumsel. Kami meminta kepada para transfortir agar mematuhi aturan itu dan jangan mengoperasikan truk-truknya di siang hari," ungkap Asisten II Setda Pemkot Prabumulih, HM Yusuf Arni kepada wartawan akhir pekan kemarin.

Yusuf mengatakan, masih melintasnya truk batubara dan kayu selain melanggar aturan juga mengganggu pengguna jalan lainnya, bahkan menyebabkan kemacetan. "Jalan rusak, banyak debu dan truk-truk itu sering menimbulkan kemacetan karena berjalan lambat dan memenuhi jalan yang menyebabkan pengendara lain kesulian mendahului," katanya.

Pria yang pernah menjabat Kepala Dinas Pariwisata Pemkab OKU Selatan ini menjelaskan, pihaknya berharap truk kayu dan batubara agar beroperasi di malam hari, disebabkan memasuki Ramadan intensitas jalan raya sangat padat karena banyak masyarakat jalan-jalan mencari takjil.
"Jalan sudah padat masyarakat jalan-jalan ditambah truk kayu dan batubara melebihi tonase melintas menjadi makin padat dan mengganggu. Selain itu juga jika terjadi kemacetan tentu akan membuat pengendara yang berpuasa terpaksa berbuka di jalan," bebernya.

Lebih lanjut Yusuf menambahkan, jikapun melintas malam hari, truk kayu dan batubara harus melintasi jalan lingkar timur Prabumulih dan jangan melalu jalan-jalan dalam kota Prabumulih. "Sudah ada peraturan walikota jika truk kayu dan batubara tidak boleh masuk jalan dalam kota atau Jalan Jenderal Sudirman, begitupun jalan dalam kota lainnya seperti jalan Bukit lebar, jalan Muaradua tidak boleh mereka lintasi," tambahnya.

Hal yang sama disampaikan Adi Susanto SE, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Prabumulih. Adi menuturkan, sesuai aturan memang truk kayu dan batubara melintas dimalam hari.

"Jika truk masih ngotot melintas di siang hari maka masyarakat harus menghentikan, jangan sampai mereka (transfortir-red) seenaknya saja melintas jalan di Prabumulih. Kalau mau melintas ya malam sesuai aturan," tegasnya.

Adi mengatakan, truk kayu dan batubara selama ini lebih banyak memberikan dampak negatif dari pada positif, juga menyebabkan pola pikir masyarakat khususnya pengangguran berubah. "Selain jalan menjadi rusak, berdebu, licin, menyebabkan banyak masyarakat meninggal akibat kecelakaan dan banyak dampak negatif lainnya, juga membuat masyarakat berpikir melakukan pungutan liar (pungli). Truk batubara dan kayu yang membuat pungli di Prabumulih ini banyak," bebernya.

Sementara, seperti diberitakan sebelumnya masyarakat kota Prabumulih sejak beberapa bulan terakhir kembali mengajak lembaa swadaya masyarakat (LSM) yang independent dan netral untuk turun ke jalan menghadang truk batubara dan kayu yang masih nekat melintas di siang hari.

Itu diinginkan masyarakat lantaran sejak beberapa bulan terakhir truk angkutan batubara bebas melintas di siang hari. "Jangan sampai harus menunggu ada yang mati kena tumbur baru mau turun, jalan rusak, penuh debu dan lumpur akibat truk batubara dan kayu yang jelas-jelas dilarang melintas siang hari," ajak Suprianto kepada wartawan beberapa waktu lalu. (eds)

Editor: Kharisma Tri Saputra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved