Mau Punya Pasangan Tentara? Eitss Kenali Dulu Tantangannya, Hati dan Jiwa Harus Kuat
Satu hal yang kaum Hawa harus tahu dan ingat bahwa karir mereka memang tak tentu waktu. You know what? Di belakang seorang tentara itu berdirinya se
Penulis: Kharisma Tri Saputra | Editor: Kharisma Tri Saputra
TRIBUNSUMSEL.COM - Tulisan ini untuk mereka mereka yang akan pacaran, sedang pacaran, bertunangan dan menikah dengan tentara. Yang lain bisa baca saja. Hehe!
Bila cerita pasal pacaran, bertunangan dan menikah dengan kaum Adam yang berprofesi tentara ini, memang banyak tantangan dan cobaan.
Rasanya dari mulai pacaran sampai sudah beranak pinak tantangan itu tetap ada.
Bila pacaran, bertunangan dan menikah dengan pria berprofesi tentara ini.
Dilansir ohmymedia, seorang wanita menceritakan pengalamannya karena berjodoh dengan tentara.
Satu hal yang kaum Hawa harus tahu dan ingat bahwa karir mereka memang tak tentu waktu.
You know what? Di belakang seorang tentara itu berdirinya seorang wanita yang sangat kuat and it s true !!!!
Sebagai contoh, saat pacaran dulu kalian sudah berjanji mau keluar makan sama-sama hari Sabtu.
Dalam kepala sudah merencanakan ini, mau shopping sana sini sentuh duit pacar, kan?
Tapi tiba saat waktunya, terpaksalah rencana kalian dibatalkan sebab sang pacar ada tugas yang lebih penting.
Waktu itu, mulailah si pacar merajuk bagai mogok tak mau beri pesan, tak mau jawab panggilan telepon sebab tak jadi keluar kencan. Betul nggak?
Mulailah si Boyfriend (BF) pening kepala mau bujuk Girlfriend (GF).
Tapi situasi terjadi mungkin hanya untuk sebulan dua bulan saja.
InsyaAllah lama kelamaan si GF akan paham tugas BF dia sebab sudah sering melewatinya.
Tapi kalau dapat GF jenis yang tak setia, hi hi bye byelah pada BF itu.
Setelah itu, kalian sudah bertunangan, hal yang sama masih terjadi.
Kena cancel date last minute. Yang lebih parah, kena tinggal berminggu-minggu lamanya sebab mungkin si tunangan kena bertugas di luar daerah (masuk hutan atau berlayar) atau harus pelatihan.
Waktu itu kalian yang sudah sah bergelar tunangan dia sudah ikhlas dalam terpaksa.
Apa boleh buat? itu tugas dia sebagai tentara.
Bila sudah menikah, besar lagi tantangan yang datang.
Terpaksa duduk berjauhan dengan suami sebab suami bertugas di tempat lain, kalian bertugas di tempat lain.
Mau bertemu pun sebulan sekali. Ada yang tiga bulan sekali dan ada juga yang bertahun-tahun tak bertemu.
Ada juga yang baru menikah terus ditinggalkan suami karena tugas.
Begitu juga dengan saya dulu. Setelah menikah, suami terpaksa tinggalkan saya sebab pergi bertugas di Pulau Lankayan, Sabah untuk operasi disana.
Makanya, saya seorang diri ditemani keluarganya.
Sebenarnya ada bermacam-macam tantangan menikah dengan tentara.
Ada istri yang sedang mengandung ditinggalkan. Istri mau pergi check up pun seorang diri.
Mau bawa anak-anak untuk perawatan di klinik pun seorang diri. Liburan? Kadang-kadang mau bawa anak-anak jalan-jalan pun seorang diri.
Adakalanya bila sudah buat perencanaan dengan baik bawa anak-anak pergi liburan, tapi terpaksa dibatalkan pada saat-saat akhir karena si ayahnya dipanggil kembali untuk bertugas.
Mau salahkan siapa? Si istri sudah tentulah sudah paham. Cuma kadang-kadang kasihan anak-anak yang tak mengerti membuat mereka memberontak dan merajuk.
Jadi disinilah peran seorang istri yang sangat penting. Dialah bapak, dia jugalah ibu yang harus memantau anak-anak di kala suami keluar bertugas.
Saya masih ingat lagi saat saya mengandung anak sulung. Saya dan suami sama-sama bertugas. Saya di PULAPOL Air Hitam, Jempol. Dia di UPNM, Kem Sungai Besi.
Semuanya saya buat sendiri dikala mengandung anak kami.
Kadang-kadang terbersit juga di sudut hati kecil saya, pergi klinik untuk check up bulanan ditemani suami.
Timbul juga perasaan cemburu melihat istri lain ditemani suami. Alangkah beruntungnya mereka.
Tapi saya sadar, situasi mereka tidak sama dengan saya. Cepat-cepat saya istighfar.
Ya, rasa bersalah sangat bila timbul rasa itu dalam hati karena bila saya sah bergelar istri seorang tentara, inilah salah satu tantangan yang saya harus lalui.
Pacaran lain tantangannya, bertunangan juga lain, menikah apalagi.
Singkat kata, menjadi pasangan bagi anggota militer ini banyak mengajar diri saya menjadi lebih kuat, tabah, sabar dan berdikari.
Semuanya harus dilakukan sendiri. Yang paling penting, bagaimana nak menepis godaan orang luar di kala kita ditinggalkan pasangan karena bertugas demi negara.
Sebenarnya, sudah banyak kasus yang saya dengar bila suami keluar bertugas istri dengan lelaki lain di belakang suami dan begitu jugalah sebaliknya.
Bagi saya, bila sudah bergelar istri tentara ini, satu yang kita tahu dari segi Islam, apa-apa pun kita sebagai isteri wajib taat pada suami.
Harus jaga kehormatan suami dan hartanya dan dalam waktu yang sama kita kena betul-betul memahami tugas suami kita sebagai anggota tentara yang kerjanya tak tentu waktu.
Siang malam. Pagi petang, saat cuti pun harus dipanggil masuk kerja. Itu yang kita harus pegang.
Saya sendiri pun selalu ingatkan diri sendiri, saya sudah bersuami dan ada anak anak. Suami keluar cari rezeki, jadi saya harus pandai jaga diri, jaga kehormatan.
Selalu ingat suami No.1 dan surga saya di bawah tapak kaki suami. Jika saya buat sedikit salah sekalipun, saya tetap berdosa.
Bila sudah tersadar saya buat salah, cepat-cepat minta maaf ke suami.
Sebab itu kalau saudara dan kerabat saya yang mau menikah dengan tentara, saya bagi nasehat satu saja.
Bila menikah dengan tentara kita harus paham tugas mereka. Jangan sekali-kali mengeluh bila mereka tidak punya waktu dengan kita dan keluarga.
Kalau tak bersedia dapat pasangan yang berprofesi seperti ini, baik dilupakan saja niat itu. Nanti menyesal kemudian hari.
Bila kita nekad dan mau juga dia jadi pasangan kita, maknanya kita dah benar-benar siap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi.
Apa yang saya ketik ini berdasarkan pengalaman sendiri yang menikah dengan anggota militer.
Waktu saya ketik status ini, suami sedang pergi sebab pergi pelatihan selama dua bulan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/tentara-pulang_20170308_150524.jpg)