Sriwijaya FC

Kebobolan Dua Gol di Laga Perdana, Pemain Belakang SFC Harus Lebih Cerewet

Menanggapi hal ini, pelatih SFC Widodo C Putro mengatakan bahwa anak asuhnya memang mendapatkan pelajaran berharga saat bertemu Bali United kemarin.

Editor: M. Syah Beni
TRIBUNSUMSEL.COM/HARYANTO
Sebanyak 15 pemain mengikuti latihan perdana Sriwijaya FC yang digelar di stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring (GSJ) Palembang, Selasa (17/1). Dari 15 pemain yang hadir, 5 diantaranya muka baru dan diproyeksikan akan menjadi bagian dari skuad laskar wong kito untuk musim 2017 ini. 

TRIBUNSUMSEL.COM, BALI- Usai kebobolan 2 gol di laga perdana saat menantang tuan rumah Bali United, Selasa (7/2) malam di stadion I Wayan Dipta Gianyar, PR besar menanti tim pelatih Sriwijaya FC.

Antisipasi set piece seakan menjadi momok berbahaya bagi laskar wong kito di laga tersebut dan 1 gol yang lahir juga dihasilkan melalui sundulan pemain belakang Abdulrahman memanfaatkan umpan dari tendangan bebas Fadil Sausu.

Menanggapi hal ini, pelatih SFC Widodo C Putro mengatakan bahwa anak asuhnya memang mendapatkan pelajaran berharga saat bertemu Bali United kemarin.

Apalagi selama melakukan uji coba di Palembang, pihaknya tidak mendapatkan lawan seimbang dan nyaris tanpa tekanan.

"Sekarang bersama tim pelatih lainnya, saya akan mencoba mengevaluasi kekurangan di laga pertama lalu. Nanti kami akan menonton rekaman pertandingannya untuk lebih spesifik mengetahui kelemahan yang terjadi," ujar eks asisten pelatih timnas Indonesia ini saat dihubungi Rabu (8/2) sore.

Asisten pelatih SFC Khusaeri membenarkan bahwa pihaknya harus bekerja keras membenahi lini belakang yang saat laga melawan Bali United mendapat banyak gempuran.

Mantan pemain timnas ini juga menyebut bahwa 3 stopper yang dimiliki SFC saat ini yakni Yanto Basna, Firdaus Ramadhan dan Bio Paulin kedepan harus lebih cerewet dalam mengkoordinasi pertahanan.

"Sebagai pemain terakhir di lini pertahanan, mereka harus lebih aktif mengkoordinasi dan berkomunikasi dengan seluruh pemain di depannya. Baik pemain tengah ataupun striker, karena mereka bisa melihat semua yang terjadi di lapangan,"

"Tidak boleh diam atau pasif, dulu saat masih bermain saya pun demikian. Tetapi sepakbola saat ini berubah dan terus berkembang, seperti saya dengan Widodo dulu, walau dia sebagai penyerang namun dengan kode-kode tertentu maka kami bisa saling mengetahui apa yang akan dilakukan," bebernya.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved