766.020 Ton Raskin Beredar di OKI

Perbulannya, seluruh warga yang hidup di garis kemiskinan ini menerima 766.020 ton raskin dalam waktu satu bulan.

TRIBUNSUMSEL.COM/EKO HEPRONIS
Kepala Perum Bulog Kansilog Mura, Lubuklinggau, Dan Muratara, Joko Susilo sedang melakukan pengecekan beras di gudang Bulog 

TRIBUNSUMSEL.COM, KAYUAGUNG -- Sebanyak 766.020 ton beras miskin (Raskin) beredar di lingkungan warga kurang mampu di wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI)

Data yang berhasil dihimpun Koordinator Lapangan Raskin di OKI, warga miskin di Kecamatan Sirah Pulau (SP) Padang yang paling banyak mengkonsumsi raskin yakni 90.330 ton per bulan dan paling sedikit di Kecamatan Pedamaran Timur yakni 8.385 ton.

Warga miskin di kecamatan lainnya yang juga banyak mengkonsumsi raskin perbulan setelah SP Padang yakni di Kayuagung (73.395), Pedamaran (60.705), Jejawi (60.150), Pampangan (52.275), Lempuing Jaya (51.705), Tanjung Lubuk (50.430) dan Tulung Selapan (49.905).

Kepala Bagian Ekonomi Setda OKI Arie Iskandar SH MH, Rabu (25/1/2017) mengatakan, secara keseluruhan di 18 kecamatan yang ada di OKI, penikmat raskin berjumlah 51.068 keluarga atau rumah tangga sasaran (RTS).

Perbulannya, seluruh warga yang hidup di garis kemiskinan ini menerima 766.020 ton raskin dalam waktu satu bulan.

"Tahun 2017 ini jumlah RTS dan jatah raskin bisa saja bertambah, tetap atau justru berkurang. Yang menentukan ini bukan kami, tapi tim dari Kemenko Bidang Pembangunan Manusia dan SDM RI," kata Arie.

Masih kata Arie, seperti tahun sebelumnya, pendistribusian raskin di awal-awal tahun selalu terlambat, paling cepat bulan Maret.

Raskin ini didistribusikan langsung dari Bulog ke titik-titik pendistribusian per kecamatan atau hingga ke desa.

Mengenai anggaran pendistribusian raskin, biayanya ditanggung Pemkab OKI sehingga apabila ada perangkat desa yang menjual raskin di atas harga Bulog maka itu pelanggaran.

Namun pihak yang berwenang menindak pelanggaran bukan Bagian Ekonomi namun Inspektorat bahkan Sekda OKI.

"Kalau anggaran pendistribusian atau biaya angkut tahun lalu mencapai Rp 3,5 milyar," jelasnya. (Mat Bodok)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved