Pemda Harus Tonjolkan Ornamen Khas Sumsel
Penggunaan ornamen khas Sumsel itu bisa dilakukan dalam pembangunan Masjid Sriwijaya, yang nantinya bisa jadi kebanggaan masyarakat Sumsel.
Penulis: Arief Basuki Rohekan |
TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG -- Pengamat sosial Sumatera Selatan (Sumsel) Bagindo Togar mendesak pemerintah daerah harus mengangkat kebudayaan lokal Sumatera Selatan (Sumsel) dengan ornamen khas Sumsel, seperti songket, rumah limas sebagai bentuk nasionalisme nasional.
“Ornamen songket harusnya menghiasi seluruh bangunan yang ada di Sumsel ini seperti di Sumatera Barat, bukan hanya bangunan pemerintah termasuk rumah ibadah,” katanya disela-sela acara Obrolan Akhir Tahun (Obat) dengan tema “Tarian Kaum Kapitalis Dan Sosialis Diatas Pusara Nasionalisme” di Hotel Amaris Lantai II Palembang, Jumat (23/12/2016).
Penggunaan ornamen khas Sumsel itu bisa dilakukan dalam pembangunan Masjid Sriwijaya, yang nantinya bisa jadi kebanggaan masyarakat Sumsel.
“Saya sudah sampaikan sehingga kalau ada saudara kita dari Malaysia ketika mereka shalat di sana mereka shalat di Palembang dan tidak merasa shalat di Timur Tengah, jangan seperti di Serang itu copy paste dari Timur Tengah Masjidnya, orang tidak tahu shalat dimana jadinya ternyata shalat di Serang, “ ucapnya.
Untuk itu, konten-konten lokal harus dikembangkan dengan tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama dan sebagainya.
“ Karena konten-konten lokal ini merupakan wujud nasionalisme Negara kita, yang berbeda tiap daerah, Sumsel harus bisa memunculkan konten-konten lokal tadi, sehingga masyarakat akan bisa membendung bentuk kapitalitas dan sosialis dengan menunjukkan konten lokalnya,” bebernya.
Terkait kapitalis yang merebak di Indonesia menurutnya tinggal adanya pengaturan dari pemerintah dan menguatkan ekonomi rakyat,
” Potensi ekonomi rakyat dan kreativitas perekonomian rakyat harus di support pemerintah dengan membuat yang tidak menyulitkan masyarakat, “ capnya seraya menambahkan kalau nasionalisme itu terdapat dari kebudayaan yang ada dari daerah yang berbeda dan nilai-nilai itulah yang menguatkan nasionalisme Indonesia.
Sementara, Alumni Lemhanas RI Erry Gustion SH Mkn menilai kalau di era 70 dan 80 pendidikan P4 yang menonjolkan cinta nasionalisme, memang sudah di tanamkan sejak dini namun sekarang hal tersebut tidak ada lagi.
“ Akibat media sosial dan yang lainnya tidak terbendung lagi, sehingga membuat pemahaman terhadap rasa kebangsaan ini menjadi terkikis, kedepan untuk Sumsel nanti mungkin kita dorong terutama bidang pendidikan , biarlah kita berbeda dengan kota lain namun di Sumsel ada lagi program penataran P4,” ujarnya.
Sedangkan Plt Kepala Dinas Sosial Provinsi Sumsel Belman Karmuda menilai, sudah sejak dulu bangsa Indonesia di jajah kaum kapitalis, sehingga presiden Soekarno membangkitkan kembali rasa nasionalisme.
“ Negara ini berdiri oleh tiga hal , oleh perasaan, berbicara dan komitmen kita, “ tandasnya.
Untuk itu budaya, kultur bangsa Indonesia harus di hidupkan, budaya malu, budaya disiplin, dan sebagainya .
“ Kaitan dengan ini pendidikan moral Pancasila harus dilakukan,” bebernya.
Dilanjutkan Belman, dalam kaitan di Sumsel, Gubernur Sumsel Alex Noerdin telah banyak membawa gebrakan pembangunan di Sumsel, sehingga semua komponen masyarakat di Sumsel, harus ikut mendukung terutama untuk mensukseskan Asian Games 2018 dan Motor GP.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/tarian-kaum-kapitalis_20161223_204910.jpg)