Radikalisme Mulai Sasar Pemuda dan Mahasiswa

Data kita menunjukkan memang terjadi peningkatan paham radikal ini di 3 Perguruan Tinggi Negeri di Sumsel,"

SRIPOKU.COM/ABDUL HAFIZ
Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Brigjen Pol Drs Hamidin memberikan materi Dialog pelibatan Dai pada program Islam Damai Untuk Pencegahan Paham Radikal dan Terorisme di Provinsi Sumatera Selatan di Gedung Grand Atyasa, Kamis (18/8/2016). 

TRIBUNSUMSEL.COM-Paham radikal dan terorisme masuk lewat salahnya pemikiran dan pemahaman terhadap nilai ideologi dan keagamaan yang tanpa disadari merasuk dalam pemahaman keagamaan para remaja yang sudah menjadi target radikalisme dan terorisme.

Hal ini dikatakan Sekretaris Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Sumsel, Periansya, di sela-sela Dialog pelibatan Dai pada program Islam Damai Untuk Pencegahan Paham Radikal dan Terorisme di Provinsi Sumatera Selatan di Gedung Grand Atyasa, Kamis (18/8/2016).

Menurutnya, remaja sebagai target utama paham radikalisme dan terorisme, terlebih mahasiswa yang berada di lingkungan Perguruan Tinggi Negeri atau umum yang secara ideologis labil.

"Data kita menunjukkan memang terjadi peningkatan paham radikal ini di 3 Perguruan Tinggi Negeri di Sumsel," kata Periansya.

Menurut Peri, peningkatan ini sebenarnya tidak terlalu mengkhawatirkan, karena di Sumsel hampir sebenarnya hampir tidak terjadi gerakan sporadis yang mengarah pada aksi terorisme.

Meski hal tersebut tetap harus diwaspadai, karena terjadi pergeseran pola pemikiran dan pemahaman dalam tindakan beragama dan aplikasinya pada ideologi pemikiran.

"Baru sebatas pemikiran saja. Dan alhamdulillah di Sumsel ini aman. Tapi kita tetap melakukan pencegahan karena itulah tugas kami," paparnya.

Sementara Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Brigjen Pol Drs Hamidin mengatakan, Radikalisme dan terorisme selalu menjadi ancaman untuk Indonesia, karena Indonesia menyimpan sejarah kelam pertumbuhan kelompok-kelompok berhaluan keras, seperti DI, NII dan kemudian JI Khusus untuk JI (Jamaah Islamiyah), kelompok ini memiliki afiliasi dengan Al Qaedah.

“Saat ini, ancaman terorisme muncul dalam wajah ISIS, kelompok yang mengaku diri sebagai pemegang Islam yang sesungguhnya itu. Mereka melakukan berbagai cara, termasuk bujuk rayu dan propaganda, agar masyarakat mau bergabung dan kemudian melakukan aksi kekerasan,” katanya.(SRIPOKU.COM/ABDUL HAFIZ)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved