32,64 Persen Orang Jepang Tak Memiliki Teman

"Tingkat tertinggi untuk berteman, menjadi teman sampai kini biasanya di usia sekitar 20 hingga 25 tahun saat di perguruan tinggi. Setelah itu turun t

factsanddetails.com

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo

TRIBUNSUMSEL.COM, TOKYO - Hasil penelitian Tokyo MX hari ini mengumumkan ternyata 32,64 persen responden warga Jepang tak memilili teman.

Sedangkan yang punya teman sampai dengan 5 orang ada 1.260 orang (54,8 persen). Yang punya teman 6 hingga 10 orang ada 216 responden dan punya teman 11 orang atau lebih hanya 72 orang (3,13 persen).

"Tingkat tertinggi untuk berteman, menjadi teman sampai kini biasanya di usia sekitar 20 hingga 25 tahun saat di perguruan tinggi. Setelah itu turun terus, menjadi sulit berteman," kata Kaoru Kawai (50) dosen Universitas Waseda memaparkan hasil penelitiannya.

Di usia sebelum universitas, masa-masa di sekolah dasar terutama, diungkapkannya memang banyak teman saat itu tetapi kemudian terlupakan karena memang masih kecil, banyak yang terkesan sesaat saja.

"Namun kalau terus menerus berdua, sekolah sama-sama sampai universitas misalnya, orang itu biasanya menjadi teman sangat dekat nantinya," kata dia.

Selain itu Kawai juga mengungkapkan saat ini cukup banyak ancaman muncul dari banyak pribadi di Jepang karena teman jarang sekali bahkan tidak sedikit warga Jepang kini yang tak punya teman.

"Hidupnya jadi terkungkung di dunianya sendiri, pikiran sempit sehingga ancaman menjadikan orang tersebut berkeinginan menyakiti atau kelakuannya jadi salah jalan, semakin besar, semakin tinggi risikonya. Itulah sebabnya muncul kejahatan pribadi dengan penusukan ke orang lain dan sebagainya karena pikirannya jadi sempit," jelas dia.

Bukan hanya itu, orang yang terkungkung di dunianya sendiri memiliki risiko berpenyakit tinggi termasuk penyakit kanker.

Dicontohkan orang yang hanya di rumah saja, chating di komputer saja dengan orang lain, bersosialisasi hanya lewat internet saja, maka akan jarang olah raga.

"Dia hanya di rumah saja dan duduk, sehingga akibatnya memiliki risiko tinggi terkena penyakit," katanya mengacu kepada penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat.

Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved