WNI Disandera Kelompok Abu Sayyaf
Semoga Pemerintah Selalu Ingat Masih Ada Empat Warganya yang Disandera Abu Sayyaf
Tak banyak upaya menemui perusahaan atau pihak lainnya yang mereka lakukan
TRIBUNSUMSEL.COM, JAKARTA - Keluarga Mochamad Ariyanto Misnan (Rian) hanya bisa pasrah menunggu informasi upaya pembebasan yang dilakukan pemerintah terhadap empat Anak Buah Kapal (ABK) TB Henry yang hingga kini masih disandera kelompok teroris Abu Sayyaf di Filipina.
Keluarga Kapten Kapal TB Henry yang tinggal di Jalan Garuda 6, Kelurahan Pengasinan, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi, Jawa Barat, hanya bisa pasif menunggu perkembangan upaya pembebasan.
Tak banyak upaya menemui perusahaan atau pihak lainnya yang mereka lakukan.
Sang Ibunda Rian, Melisa Ginting, dan adik-adik Rian hanya menanti kabar dari depan layar televisi sambil berdoa agar ada kabar kelanjutan upaya pembebasan.
"Kita sekeluarga was was, terus nonton berita televisi. Karena informasi sekarang, kita hanya pantau dari berita. Kita berharap cepat selamat," ujar Kakak kedua Rian, Mochamad Indra Purwanto kepada Tribunnews saat ditemui di kediamannya, Jumat (6/5/2016).
Lantaran rasa kekhawatiran terhadap kondisi Rian, membuat nafsu makan Melisa menurun drastis. Kecemasan dengan selalu menunggu kabar di televisi dan menunggu telepon kabar tentang anaknya itu membuat ibu lima anak tersebut abaikan makan.
Kabar terakhir dari pemerintah didapat saat pemulangan 10 ABK TB Brahma Minggu 1 Mei lalu. Saat itu perwakilan pemerintah menelpon menginformasikan jika negosiasi sedang berlangsung.
"Belum dapat kabar lagi, terakhir ketika pemulangan 10 ABK," kata Indra.
Informasi terakhir yang didapat adalah penyandera meminta uang tebusan sebesar 200 juta peso untuk pembebasan empat ABK TB Henry. Masing-masing orang bernilai 50 juta peso.
"Jadi kalau ingin dibebaskan keempat-empatnya harus ada 200 juta peso, kita hanya bisa diam saja menunggu langkah perusahaan dan pemerintah," katanya.
Indra berharap, pemerintah jangan sampai lupa dengan empat orang ABK Indonesia yang masih disandera Abu Sayyaf.
Ia berharap upaya pembebasan ABK TB Henry sama gencarnya dengan 10 ABK TB Brahma 12 yang akhirnya bisa kembali ke tanah air secara sehat walafiat.
"Pemerintah semoga selalu ingat jika masih ada empat warganya yang berada di ujung tanduk," harap Indra.
Penyanderaan empat ABK TB Henry terjadi tiga pekan setelah kelompok Abu Sayyaf menyandera 10 ABK TB Brahma di perairan Filipina.
Kapal TB Henry yang berbendera Indonesia disatroni kelompok bersenjata, Jumat (15/4/2016) saat hendak kembali dari Cebu (Filipina) ke Tarakan (Kalimantan).
Kapal yang menarik kapal tongkang Christy tersebut dibajak di tengah laut dan membuat empat dari 10 ABK diculik Enam ABK lainnya selamat. Lima orang yang selamat bahkan kini sudah kembali ke rumah masing masing.
Mereka yang masih ditawan yakni: Moch Ariyanto Misnan selaku Kapten Kapal, Lorens MPS, Dede Irfan Hilmi, dan Samsir.
Kondisi Baik
Pengamat intelijen Ridlwan Habib menjelaskan, berdasarkan informasi yang diperolehnya, empat ABK TB Henry tersebut dalam kondisi baik.
Mereka telah terpantau berkat upaya tim negoisasi dari pemerintah RI dengan kelompok Abu Sayyaf yang menyanderanya.
Ridlwan memperkirakan, keempat ABK ini dalam waktu tak lama lagi juga segera dibebaskan dan kembali ke tanah air.
"Mereka sudah terpantau dengan baik. Semoga tak lama lagi segera dibebaskan," ujar Ridlwan kepada Tribun.
Ridlwan justru mengingatkan agar tidak lagi terjadi saling mengklaim saat membebaskan empat ABK itu nanti. Jangan sampai kejadian saling klaim saat pembebasan 10 ABK TB Brahma terulang.
Jika saling klaim itu terjadi, maka bisa membahayakan empat ABK yang masih disandera.
"Jangan sampai euforia klaim-klaim sepihak dan euforia pembebasan itu membahayakan empat WNI lainnya yang masih ada di Filipinan Selatan," kata Ridlwan Habib.
Ridlwan meyakini, bebasnya 10 WNI atau ABK asal Indonesia tiga hari lalu adalah hasil dari proses panjang misi intelijen rahasia sejumlah pihak Indonesia dan Filipina.
Dan tidak selayaknya hal itu disampaikan secara detil ke publik karena bisa dipelajari dan dibaca oleh kelompok penyandera. Hal itu pun akan sangat membahayakan.
"Ingat, dalam prinsip sebuah operasi senyap itu kalau berhasil orangnya tidak dipuji, gagal dicaci maki, hilang tidak dicari, dan kalau dia mati tidak diakui. Ini yang dipegang teguh para pelaku operasi-operasi senyap dan sudah menjadi doktrin baku," ucap Ridlwan. (tribunnews/fik/coz)