Sriwijaya-Kesultanan dalam Tarian Eli Rudi

"Kami tampilkan dengan polesan koreografi dan teknik tanpa meninggalkan gerakan yang sebenarnya," kata Eli Rudi dibincangi Tribunsumsel.com usai pemen

Sriwijaya-Kesultanan dalam Tarian Eli Rudi
TRIBUNSUMSEL.COM/ANDI AGUS TRIYONO
Tari Zaplin yang dipentaskan di Taman Budaya Sriwijaya 

Wartawan Tribunsumsel.com, Andi Agus Triyono

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Mestro tari Sumsel, Eli Rudi mempersembahkan pentas tarian dua zaman besar di Palembang, masa Hindu Budha pada kerajaan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang, tari Zaplin di Taman Budaya Sriwijaya, Jakabaring Palembang, Jumat (22/4/2016) siang.

Gelaran ini dalam dua sesi, pagi dan siang dimulai pukul 13.30 hingga selesai.

Dalam pementasan itu, tarian tersebut dipoles dengan teknik dan koreografi yang menarik.

Namun tidak meninggalkan pakem tarian yang aslinya.

"Kami tampilkan dengan polesan koreografi dan teknik tanpa meninggalkan gerakan yang sebenarnya," kata Eli Rudi dibincangi Tribunsumsel.com usai pementasan sesi pertama.

Menurut dia, pada masa kerajaan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang bentuk tariannya berbeda.

Masa Sriwijaya menggambarkan kebesaran, kepatuhan dan pola masyarakat zaman itu.

Sama halnya masa Kesultan Palembang yang sudah memeluk Islam.

"Tariannyapun sudah beda. Kalau zaman Sriwijaya yang Hindu Budha memakai Dodot dan penarinya perempuan karena juga sebagai ritual pada masa itu. Kemudian masa Kesultanan, bagaimana pada pedagang dari Gujarat mengenalkan agama Islam penuh damai. Kita sajikan dalam tarian sedemikian rupa," kata dia.

Ia berharap pementasan tarian dua masa yang berbeda dalam satu rangkaian ini memberikan pelajaran tentang Sumsel yang demikian.

Pesan tari yang disajikan agar hidup rukun tidak membeda-bedakan ras, suku dan agama sebagaimana rangkaian tari dari kedua masa itu.

Penulis: Andi Agus Triyono
Editor: Kharisma Tri Saputra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved