Breaking News

Harga Beras Indonesia Paling Mahal

Harga beras produksi Indonesia dinilai masih menjadi yang paling mahal

Presiden Joko Widodo didampingi Menteri BUMN Rini Soemarno (tengah) dan Dirut Perum Bulog Djarot Kusumayakti (kiri) meninjau stok beras di Gudang Nomor 28 di Bulog Divre Kelapa Gading, Jakarta, Jumat (2/10/2015). Pemerintah menggelar operasi pasar beras premium secara serentak di sejumlah kota besar di Indonesia untuk mengendalikan harga menjelang musim paceklik dengan harga Rp8.700 - Rp9.700 per Kg tergantung kualitasnya. BIRO PERS 

TRIBUNSUMSEL.COM-Harga beras produksi Indonesia dinilai masih menjadi yang paling mahal se-ASEAN. Apalagi, jika dibandingkan dengan Myanmar atau Kamboja.

Hal tersebut diungkapkan oleh Dirut Pengadaan Bulog, Wahyu di Hotel Grand Cempaka, Jakarta Senin (29/12/2015).

"Kita paling mahal di antara negara - negara produsen beras di ASEAN, Kamboja dan Myanmar jauh lebih murah dibanding dengan Indonesia," ujar Wahyu.

Kata dia, harga perkiraan untuk beras Indonesia di pasaran per kilogramnya masih di atas Rp 9.000 lebih tinggi Rp 2.000 dari beras di negara lain.

"Untuk harga berapanya tergantung dengan kurs dollar. Tapi untuk perkiraan saja misalnya di Indonesia harga beras medium bisa di atas Rp 9.000. Sedangkan untuk di luar negeri (Vietnam dan Myanmar) bisa dibawah Rp 7.000 rupiah," ujar Wahyu.

Padahal, kata dia jika bicara soal sumbangan pemerintah khususnya dalam kebijakan pertanian, Indonesia jawara di ASEAN. Dia mencontohkan, jika bantuan pemerintah Vietnam untuk 1 hektar lahan pertanian dirupiahkan, nilainya hanya sekitar Rp 1 juta. Sedangkan di raya-rata nilai nya Indonesia bisa mencapai Rp 5 juta per hektar lahan.

Menurut dia, saat ini hal yang perlu diperhatikan adalah efisiensi dan efektivitas bantuan pada pelaku pertanian.

"Bukan hanya melulu soal meningkatkan harga yang bisa didapat petani tapi yang lebih penting adalah memastikan harga komoditas dibeli dengan layak," ujarnya.

Oleh karena itu, Wahyu berpendapat bahwa kehadiran Badan Otoritas Pangan Nasional diperlukan. Badan Otoritas Pangan Nasional ini nanti akan mengatur regulasi soal pangan di Indonesia.

"Salah satunya juga agar bisa memetakan potensi produksi dalam negeri," ujar Wahyu.

Dia mencontohkan, Badan ini kelak akan bisa memetakan komoditas apa saja yang potensial. Misalnya saat melihat produksi jagung sangat potensial, nantinya semua yang terlibat bisa fokus di produksi jagung.

"Jangan maksain bikin kedelai misalnya, yang kita enggak bagus di sana," tutur dia.

Sumber: Kompas
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved