Mandi 7 Kali Pada Malam Jumat di Sungai Ini Katanya Keinginan Akan Terkabul
Ada mitos yang berkembang di masyarakat sekitar, bahwa jika mau hajatnya terkabul, pengunjung harus mandi selama tujuh kali pada malam Jumat Kliwon.
Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Lingga Arvian Nugroho
TRIBUNSUMSEL.COM, MEGA MENDUNG - Sungai Jodoh konon dipercaya masyarakat kampung Pasir Angin menjadi tempat pertemuan lelaki dan perempuan.
Para pencari jodoh acapkali datang untuk berendam dan mandi sungai yang terletak di Kampung Pasir Angin Gadog, Kecamatan Mega Mendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, tersebut.
Ada mitos yang berkembang di masyarakat sekitar, bahwa jika mau hajatnya terkabul, pengunjung harus mandi selama tujuh kali pada malam Jumat Kliwon.
Hal tersebut diamini oleh Dedi, sesepuh di Kampung Pasir Angin, kepada TRIBUNNEWSBOGOR.com, Kamis (29/10/2015).
"Mitosnya harus mandi 7 kali, tapi kita ambil positifnya aja. Jadi jika ingin berhasil, harus berusaha dan berjuang. Kira-kira gitulah," ujarnya.
Menurut Dedi, tempat tersebut ramai dikunjungi setiap malam Jumat. Pengunjungnya pun beragam, ada pegawai salon, pegawai karaoke, penyanyi dangdut hingga pejabat.
"Dulu itu, pegawai salon, pegawai karaoke, sampai penyanyi dangdut pernah mandi di sini, dulu Jembatan Ciesek ini sampai penuh. Kalau sekarang, masih ada juga tapi tidak seramai dulu," ucap pak dedi sambil menunjuk ke arah Jembatan Ciesek.
Mereka rata-rata meminta meminta jabatan, kekayaan, jodoh, kecantikan abadi, hingga popularitas.
"Pada dasarnya semua di serahkan kepada Tuhan, hanya saja disini tempat mandi jika selama hidup diri kita ini kotor, permasalahan ingin kaya dan jodoh itu urusan mereka yang datang," ujar Dedi sambil memegangi kopiah hitamnya.
Salah satu orang yang pernah berkunjung ke sungai itu adalah Presiden ke-2 RI Soeharto.
Sesepuh di Kampung Pasir Angin, Dedi, mengatakan saat itu almarhum Soeharto tidak berendam, melainkan hanya melihat-lihat lokasi sungai.
"Dulu ada Presiden Soeharto datang ke sini bersama tiga ajudannya sekitar tahun 80-an. Mereka datang berkendara mobil Mercedez berwarna hitam. Saya masih ingat itu," tutur Dedi, sesepuh di Kampung Pasir Angin kepada TRIBUNNEWSBOGOR.com.
"Pak Harto hanya turun sendiri ke lokasi sungai. Entah apa tujuannya," kata Dedi.
Ketika Soeharto berkunjung, Dedi tidak berani menemani. Dia hanya menunggu di atas jembatan. Sementara, Soeharto melihat-lihat sekitar lokasi.