Slogan Kerja, Kerja, Kerja Jokowi Belum Berdampak

"Tapi setelah berkembang satu tahun, belum banyak yang bisa kita lihat dari slogan 'kerja, kerja, kerja'. Yang terjadi setelah satu tahun Revolusi

KOMPAS
Ilustrasi 

TRIBUNSUMSEL.COM-Menjelang setahun kerja Presiden Joko Widodo dan Kabinet Kerja menggerakkan pemerintahan Indonesia, masyarakat terus menyorot perubahan yang dijanjikan sejak awal. Jokowi selalu mengembar-gemborkan konsep Nawacita dan slogan "kerja, kerja, kerja" yang dianggap dapat memacu bawahannya untuk bekerja lebih giat.

Namun, slogan tersebut dianggap tidak terimplementasi dengan baik untuk bangsa Indonesia. Aktivis IM Center untuk Dialog dan Perdamaian, Ichsan Malik menganggap, Jokowi belum sukses menerapkan prinsip kerja maksimal itu.

"Tapi setelah berkembang satu tahun, belum banyak yang bisa kita lihat dari slogan 'kerja, kerja, kerja'. Yang terjadi setelah satu tahun Revolusi Mental malah kembali berulang setelah belasan tahun, asap di mana-mana, berjatuhan korban," ujar Ichsan dalam acara Gerakan Nasional Pencanangan Hari Bhineka Tunggal Ika di Museum Juang 45, Jakarta, Sabtu (17/10/2015).

Ichsan mengatakan, Jokowi memperkenalkan "Revolusi Mental" yang disambut sebagai angin segar bagi masyarakat. Ichsan membayangkan, Revolusi Mental akan membawa Indonesia kembali menjadi bangsa maritim yang besar dan mampu berdaulat secara politik dan ekonomi. Terutama akan mengembangkan toleransi di Indonesia.

Namun, dia menyayangkan konsep tersebut ironis dengan kemunculan berbagai konflik yang belakangan mencuat. Sebut saja kerusuhan di Tolikara, peristiwa di Lumajang, dan kerusuhan di Aceh Singkil.

"Semua ini menunjukkan bahwa yang berkembang justru intoleransi. Saya curiga ini mendorong radikalisme maka akan terus terjadi konflik," kata Ichsan.

Ichsan mengatakan, berbagai pertanyaan pun muncul dalam benaknya. Mampukah kita bertahan dengan keragaman bangsa ini? Bisakah kita melakukan revolusi mental? Menurut Ichsan, Revolusi Mental dapat diterapkan jika setiap individu menyadari bahwa keberagaman di Indonesia merupakan kekuatan, bukan pemicu konflik.

Oleh karena itu, pemerintah diminta mencanangkan satu hari dalam setahun, yaitu tanggal 17 Oktober sebagai Hari Bhineka Tunggal Ika. Tujuannya agar kesadaran masyarakat terhadap perbedaan di Indonesia meningkat dan menumbuhkan sikap toleransi terhadap keberagaman itu.

"Melalui prinsip Bhineka Tunggal Ika pula kita akan menciptakan ketahanan masyarakat Indonesia," kata Ichsan.

Sumber: Kompas
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved