Selena Gomez Beresiko Stroke Akibat Sakit Lupus
"Saya bisa terkena stroke. Saya mengunci diri sampai merasa percaya diri dan nyaman lagi," katanya.
TRIBUNSUMSEL.COM - Bintang pop Selena Gomez baru-baru ini mengungkapkan bahwa ia menderita lupus, penyakit autoimun yang bisa menyebabkan nyeri sendi, ruam, lelah, dan kerusakan organ tubuh.
Dalam wawancara dengan majalah Billboard, penyanyi berusia 23 tahun ini mengatakan ia telah menjalani kemoterapi sebagai pengobatan penyakitnya.
"Saya bisa terkena stroke. Saya mengunci diri sampai merasa percaya diri dan nyaman lagi," katanya.
Penyakit lupus merupakan penyakit autoimun yang berarti sel imun tubuh menyerang sel-sel tubuh sendiri. Penyakit ini memang kebanyakan diderita oleh kaum perempuan.
Hampir semua organ tubuh, dari kepala sampai kaki bisa terpengaruh oleh penyakit ini sehingga penyakit ini sering disebut sebagai penyakit "seribu wajah". Tetapi dua bagian yang paling rentan adalah persendian sehingga terkena radang sendi, dan kulit sehingga muncul ruam atau bercak di kulit.
Separuh pasien lupus menderita penyakit ginjal. Pasien dalam kelompok ini biasanya harus melakukan kemoterapi dengan obat-obatan yang berdampak toksik. Tetapi tidak mengonsumsi obat justru beresiko begi mereka.
Orang berusia muda yang terkena lupus seperti Gomez memiliki sindrom yang disebut sindrom antiphospholipid, yang berarti darah mereka mudah membeku. Memang hanya 10 persen pasien lupus, tetapi kondisi ini harus diwaspadai.
Pasien lupus yang memiliki sindrom antiphospholipid juga beresiko besar mengalami keguguran berulang dan kehamilan bermasalah karena bekuan darahnya bisa masuk ke plasenta sehingga mengalami keguguran atau mereka mengalami stroke.
Pengobatan kemoterapi perlu dilakukan bagi pasien lupus, terutama yang tahapannya lebih lanjut. Tapi pada pasien yang penyakitnya ringan tidak memerlukannya.
Tergantung seberapa aktif penyakitnya, biasanya pasien lupus perlu obat antiinflmasi nonsteroid dan obat lain, termasuk steroid dan obat penekan sistem imun. Sayangnya, kesembuhan bukan tujuan utama pengobatan pada saat ini. Target pengobatan adalah remisi sehingga gejala-gejalanya bisa dihilangkan.
Orang yang menderita lupus bisa memiliki kehidupan yang normal, tetap bisa bekerja dan berkeluarga. Tetapi ada juga pasien yang penyakitnya cukup berat dan kondisi ginjalnya buruk sehingga membutuhkan pengobatan yang lebih agresif.